Selasa, 10 Juli 2018

SAHABAT SEHIDUP SESURGA




Bismillaah..
Masih kuingat langkah awal perpisahan dengan kotaku tercinta. Memang bukan kali pertama bagiku pergi keluar kota untuk beberapa hari, namun kali ini berbeda karena mungkin akan bertahun-tahun. Cuaca cukup cerah kala itu, tapi tak bisa kurasakan begaimana cuaca hatiku, mungkinkah mendung?  Karena ini akan menjadi pengalaman pertamaku merantau, tinggal jauh dari keluarga, teman, dan sahabatku. Atau mungkin cuaca hatiku juga sedikit cerah? Terbayang mungkin disana, di tempat bernaungku nanti akan ada sambutan hangat dari “rumah” baruku dan mungkin juga teman atau sahabat yang baru. Entahlah, tak begitu kupikirkan saat itu. Yang jelas aku pergi dengan membawa restu kedua orangtua untuk menuntut ilmu sebaik mungkin, keyakinan yang terus kubulatkan, bahwa aku pasti bisa.
Pergantian siang-malam, pergantian musim mengiringi pula pergantian semester perkuliahan tak terasa terus menunjukkan bahwa aku bisa melewati fase merantau ini dengan perlahan tapi pasti. Kisahku selama di perantauan persis syair Imam Syafi’i yang pernah kubaca dalam salah satu novel favorit :
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman,
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang,
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan,
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang,

Kucoba uraikan 2 poin penting dalam syair itu dalam sudut pandangku, yang pertama bahwa dengan merantau kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Dan itu benar terjadi, Allah mempertemukanku dengan kawan-kawan yang punya semangat sama untuk menimba ilmu di kampus kesehatan yang kami pilih kini, kawan-kawan yang mempunyai semangat yang sama untuk berdakwah dan berseru saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran, kawan-kawan yang tak hentinya memberi dukungan dan do’a bagaimanapun kondisi yang dilalui, dengan atau tanpa ada ujian doa itu bagaikan terus mengalir. Sahabat rasa keluarga juga Allah satukan di tempat bernaungku kini, mereka adalah kawan-kawanku dari suatu daerah dengan sebutan Surga yang Tersembunyi “Bondowoso”. Tetapi di bagian bumi yang berbeda ini kami tak bersembunyi. Justru dari cinta, semangat dan keinginan mulia untuk kota kami perlahan mulai terwujud.

“Sahabat Muslimah Bondowoso” begitulah kami menyebutnya, suatu harapan besar kami lahir dari sana. Meski berawal dari lima orang mahasiswi asal daerah yang sama, tempat rantauan yang sama pula, tetapi cintalah yang akhirnya menyatukan kami dengan bebarapa sahabat kami dari Bondowoso lainnya meski daerah rantau kami berbeda-beda. Bak memiliki radar yang sama, kami sepakat dan berangkat dengan tujuan mulia untuk membangun muslimah Bondowoso menjadi lebih baik, mampu melihat dunia lebih luas seperti apa yang juga kami lihat di perantauan kami masing-masing, membuka cakrawala lebih luas lagi. Dan begitulah keajaiban niat baik, selalu diikuti oleh aktifitas-aktifitas kebaikan berikutnya. Hingga akhirnya ikatan ukhuwah penuh cinta pun lahir dari beberapa aktifitas yang kami lakukan dalam komunitas kami.

Poin yang kedua adalah bekerja keraslah, maka manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang. Ya, memang tak mudah bagi kami para perantau berjuang di tempat yang baru kami kenal. Beradaptasi dengan lingkungan asing, belajar siang dan malam ditemani tumpukan tugas, tapi disela kesibukan itu tak lepas pula euforia mengikuti berbagai kajian ustadz/ustadzah ternama Indonesia yang belum pernah datang di daerah asalku. Tujuannya hanya satu, memetik hikmahnya dan menyimpan ilmu rapat-rapat dalam kalbu. Untuk apa? Agar kelak kami merasakan manisnya ilmu yang barokah yang dapat kami bawa kembali ke tanah kelahiran kami, menanamnya, merawatnya hingga tumbuh sempurna dan hasilnya akan membawa manfaat untuk orang banyak.

Teruntuk sahabatku di perantauan dan sahabatku dimanapun kalian berada, perlulah kalian tahu aku mencintai kalian karena Allah, Allah yang mempertemukan dan menyatukan kita hingga erat ukhuwah ini dengan tujuan yang mulia. Anas bin Malik berkata “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya”, maka kuharap cinta yang kita bangun akan mempertemukan kita lagi nanti di tempat yang kekal, surga yang kita nantikan.

Teruntuk sahabatku, adik-adikku yang akan merantau untuk tujuan yang baik, untuk menuntut ilmu. Merantaulah, kau akan benar-benar mengerti apa artinya rindu, apa artinya berjuang dengan dirimu sendiri, dan kau akan mengerti betapa Allah Maha Baik akan mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang sangat baik yang bahkan belum pernah kita kenal sebelumnya. Rangkailah kisahmu bersama sahabat terbaikmu hingga ke surga nanti, InsyaAllah.

“Perbanyakkanlah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat” (Al-Hasan Al-Bashri).



Malang, April 2018

Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar