![]() |
Bismillaah..
Masih
kuingat langkah awal perpisahan dengan kotaku tercinta. Memang bukan kali
pertama bagiku pergi keluar kota untuk beberapa hari, namun kali ini berbeda
karena mungkin akan bertahun-tahun. Cuaca cukup cerah kala itu, tapi tak bisa
kurasakan begaimana cuaca hatiku, mungkinkah mendung? Karena ini akan menjadi pengalaman pertamaku
merantau, tinggal jauh dari keluarga, teman, dan sahabatku. Atau mungkin cuaca
hatiku juga sedikit cerah? Terbayang mungkin disana, di tempat bernaungku nanti
akan ada sambutan hangat dari “rumah” baruku dan mungkin juga teman atau
sahabat yang baru. Entahlah, tak begitu kupikirkan saat itu. Yang jelas aku
pergi dengan membawa restu kedua orangtua untuk menuntut ilmu sebaik mungkin,
keyakinan yang terus kubulatkan, bahwa aku pasti bisa.
Pergantian
siang-malam, pergantian musim mengiringi pula pergantian semester perkuliahan
tak terasa terus menunjukkan bahwa aku bisa melewati fase merantau ini dengan
perlahan tapi pasti. Kisahku selama di perantauan persis syair Imam Syafi’i
yang pernah kubaca dalam salah satu novel favorit :
Orang pandai dan beradab tidak akan
diam di kampung halaman,
Tinggalkan negerimu dan merantaulah
ke negeri orang,
Merantaulah, kau akan dapatkan
pengganti dari kerabat dan kawan,
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang,
Kucoba
uraikan 2 poin penting dalam syair itu dalam sudut pandangku, yang pertama
bahwa dengan merantau kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Dan
itu benar terjadi, Allah mempertemukanku dengan kawan-kawan yang punya semangat
sama untuk menimba ilmu di kampus kesehatan yang kami pilih kini, kawan-kawan
yang mempunyai semangat yang sama untuk berdakwah dan berseru saling
mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran, kawan-kawan yang tak hentinya
memberi dukungan dan do’a bagaimanapun kondisi yang dilalui, dengan atau tanpa
ada ujian doa itu bagaikan terus mengalir. Sahabat rasa keluarga juga Allah satukan
di tempat bernaungku kini, mereka adalah kawan-kawanku dari suatu daerah dengan
sebutan Surga yang Tersembunyi “Bondowoso”. Tetapi di bagian bumi yang berbeda
ini kami tak bersembunyi. Justru dari cinta, semangat dan keinginan mulia untuk
kota kami perlahan mulai terwujud.
“Sahabat
Muslimah Bondowoso” begitulah kami menyebutnya, suatu harapan besar kami lahir
dari sana. Meski berawal dari lima orang mahasiswi asal daerah yang sama,
tempat rantauan yang sama pula, tetapi cintalah yang akhirnya menyatukan kami
dengan bebarapa sahabat kami dari Bondowoso lainnya meski daerah rantau kami
berbeda-beda. Bak memiliki radar yang sama, kami sepakat dan berangkat dengan
tujuan mulia untuk membangun muslimah Bondowoso menjadi lebih baik, mampu
melihat dunia lebih luas seperti apa yang juga kami lihat di perantauan kami
masing-masing, membuka cakrawala lebih luas lagi. Dan begitulah keajaiban niat
baik, selalu diikuti oleh aktifitas-aktifitas kebaikan berikutnya. Hingga
akhirnya ikatan ukhuwah penuh cinta pun lahir dari beberapa aktifitas yang kami
lakukan dalam komunitas kami.
Poin
yang kedua adalah bekerja keraslah, maka manisnya hidup akan terasa setelah
lelah berjuang. Ya, memang tak mudah bagi kami para perantau berjuang di tempat
yang baru kami kenal. Beradaptasi dengan lingkungan asing, belajar siang dan
malam ditemani tumpukan tugas, tapi disela kesibukan itu tak lepas pula euforia mengikuti berbagai kajian ustadz/ustadzah
ternama Indonesia yang belum pernah datang di daerah asalku. Tujuannya hanya
satu, memetik hikmahnya dan menyimpan ilmu rapat-rapat dalam kalbu. Untuk apa? Agar
kelak kami merasakan manisnya ilmu yang barokah yang dapat kami bawa kembali ke
tanah kelahiran kami, menanamnya, merawatnya hingga tumbuh sempurna dan
hasilnya akan membawa manfaat untuk orang banyak.
Teruntuk
sahabatku di perantauan dan sahabatku dimanapun kalian berada, perlulah kalian
tahu aku mencintai kalian karena Allah, Allah yang mempertemukan dan menyatukan
kita hingga erat ukhuwah ini dengan tujuan yang mulia. Anas bin Malik berkata
“Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya”, maka kuharap cinta yang
kita bangun akan mempertemukan kita lagi nanti di tempat yang kekal, surga yang
kita nantikan.
Teruntuk
sahabatku, adik-adikku yang akan merantau untuk tujuan yang baik, untuk
menuntut ilmu. Merantaulah, kau akan benar-benar mengerti apa artinya rindu,
apa artinya berjuang dengan dirimu sendiri, dan kau akan mengerti betapa Allah
Maha Baik akan mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang sangat baik yang
bahkan belum pernah kita kenal sebelumnya. Rangkailah kisahmu bersama sahabat terbaikmu
hingga ke surga nanti, InsyaAllah.
“Perbanyakkanlah
sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat” (Al-Hasan
Al-Bashri).
Malang,
April 2018
Lailatul
Qomariyah Elok Nurintani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar