........................................
Syawal-ku kali ini (Part 3) kembali
pada kisah perpisahan. Dimasa kuliah, penulis emang gak bisa diem (Hehe).
Selain kuliah, si penulis juga berusaha aktif di berbagai organisasi yang jelas
beresiko tidak bisa merasakan jadi anak kuliahan yang utuh, liburan kediskon,
penat dan lelah luar biasa, dan emang gak bisa diem alias ada aja yang kudu
dikerjakan insyaAllah sahabat-sahabat yang aktif semasa kuliah ngerti lah
gimana rasanya ya. Dan yang tak terbayangkan, berani-beraninya nih si penulis
nantangin diri buat jadi tentor les privat (ingin tepok jidat kan, hehe).
Bergabung dengan lembaga bimbingan belajar penulis lakoni dengan target
mengajar 5 kali pertemuan dalam seminggu dan itu dikerjakan seusai jam kuliah
begitulah setiap harinya. Seneng sih karena juga passion tapi banyak dukanya juga, sampe pernah nangis ingin
menyerah, lalu kembali terpikir dalam diri bahwa “Ini resiko dari pilihanmu
sendiri lay, lalu apakah kamu juga tidak akan amanah, kamu harus bertanggung
jawab!” nah semakin juga tercambuk semangat mengingat lagi ternyata begini
susahnya cari uang. Penulis bukanlah dari keluarga yang berada, jadi saat itu
juga berpikir bagaimana caranya bisa membantu orangtua. Terbayang gimana kedua
orangtua saat itu mencari rezeki dengan susah payah. Banyak teman bertanya
“gimana caramu bagi waktu? Kenapa bisa kuat begitu?” dan alasan tadi adalah
salah satu alasan terkuat hingga akhirnya memberanikan diri untuk mencoba jadi
tentor dan alhamdulillaah bisa berjalan dengan baik meski rintangan sangat
banyak dan harus ada hal yang dikorbankan.
Tapi tetap tidak sebanding dengan pertanyaan gimana lelahnya kedua
orangtua kita mencari nafkah kan? Saat kita mungkin enak aja minta uang saat
dompet kosong bahkan terkadang uang itu untuk keperluan yang kita ingini bukan
yang kita butuhkan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki dan kesehatan untuk
kedua orangtua kita. Aaamiin allaahumma aamiin.
Setiap kesulitan ada kemudahan.
Dibalik lelah, penat, dan duka mencoba bekerja sambil kuliah tapi ada hadiah
Allah yang luar biasa dibaliknya. Alhamdulilaah dengan rezeki hasil mengajar
bisa sedikit membantu uang jajan dan membayar
printilan-printilan kebutuhan
kuliah lainnya. Meski sedikit, tapi puas hati mengingat perjuangan menjemput
rezeki itu. Dari rezeki itu pula Allah mewujudkan impian pergi ke Bandung yang
sudah tertulis rapi di wishlist untuk
bertemu dengan sahabat tercinta di Bandung dan merasakan romantisnya Bandung
yang dari dulu diidamkan. Keuntungan selanjutnya adalah bisa melupakan hal-hal
yang mungkin gak faedah contohnya akibat dari kisah Part 1 tuh, hehe. Nah
karena padatnya jadwal kuliah dan jam mengajar les, jadi gak ada waktu deh
untuk memikirkan hal-hal lain yang saat ini belum penting, bisa coba move-on dengan ngerjain kegiatan-kegiatan
positif. Beneran deh ini jurus ampuh buat yang susah move-on, susah ngelupain si dia, lagi ada masalah, lagi merasa
jomblo parah, jurus ini kudu dicoba (Hehe)
Sibukkan dirimu dengan kegiatan
positif meski agak padat gak apalah asalkan kegiatannya positif apalagi bisa
menghasilkan dan bawa manfaat buat diri kita dan orang lain. Sok atuh
kerjakanlah! Jangan lupa sertai dengan doa pada Allah dan doa restu kedua orangtua
kita, insyaAllah apa-apa lancar deh, Believe it!. Satu hal lagi hadiah yang gak
akan terlupakan adalah salah satu siswa les yang punya cerita tersendiri,
satu-satunya siswa yang protes kalu dipanggil adek, panggilan akrabnya “abang”,
wkwk. Baiklah akhirnya mbak lay (sebutannya kepada penulis) harus kudu
manggilnya abang, gak apa juga sih lumayan mbak lay punya abang juga akhirnya,
wkwk. Mengajar siswa ini butuh cara khusus, gak bisa diem, belajar kudu ada break mainnya, belajar kudu easy going, belajar kudu telaten dan
sabar extra terutama matematika. Banyak tantangan dan greget selama mengajar si
abang, Qodarullah walhamdulillaah mengajar si abang semenjak duduk kelas 5 SD
hingga selesai UN memberikan perkembangan yang berarti, memang selain mbak lay
juga ada guru privat lainnya yang menggantikan mbak lay selama mbak lay ujian
atau sedang praktek, tapi kata mami (ibu si abang) abang itu manjanya sama mbak
lay aja, nyantolnya sama mbak lay, kalau mbak lay gak ada mesti ditanyain. Ya
begitulah kurang lebih gambaran si abang. Siswa les serasa adik sendiri, dekat
dengan keluarganya pun serasa hadiah Allah yang luar biasa dan saat ini pun
Allah memberikan izin untuk tinggal bersama keluarga ini di Malang (setelah
hampir 4 tahun berpredikat sesepuh asrama kampus, wkwk). Semoga Allah selalu
memberikan perlindungan dan rahmat yang berlimpah untuk keluarga terbaik di
Malang ini. Tapi kemarin hari yang cukup menyesakkan, yap inilah perpisahan
Syawal kali ini, abang kini sudah SMP dan memutuskan untuk menjadi santri di
salah satu pondok pesantren di Pasuruan. Bocah yang sangat dekat dengan mami
dan kakak perempuannya ini untuk pertama kalinya hijrah meninggalkan rumah ke
pondok. Tapi tujuanmu baik bang, setelah ridho mami kau gapai, gapailah ridho
Allah ya Bang. Doa mbak lay, mami, dan kakak insyaAllah mengalir terus buat
abang. Memang rumah terasa berbeda tanpa si abang, yang suka jahilin mami dan
kakak, yang suka gangguin mbak lay garap skripsi, yang suka meramaikan rumah
dengan suaranya ala bocah. Semoga abang disana dimudahkan menyerap ilmu dan
dijadikan santri yang sholeh ya, bukan santri yang mbambess ( mbambes :
kata-kata candaan abang yang sering dilontarkan, wkwk). Semangat Le,
Wah cukup panjang juga cerita kali ini,
maafkan ke-loss-an ini ya sahabat,
sedikit menghibur diri ditengah kepenatan ini dengan menulis. Sekali lagi apa
yang laila tulis bukan bermaksud riya’ atau lainnya, tapi juga mengingatkan
diri sendiri dan mensyukuri apa-apa yang telah Allah beri. Semoga
sahabat-sahabat sedikit atau banyak bisa mendapatkan sesuatu dari tulisan ini,
semoga sesuatu itu pun positif. Mengingatkan diri kita sekali lagi bahwa hidup
itu tidak mudah, ada suka dan duka, tapi jika orientasi kita hanya dunia maka
lama-kelamaan kita akan capek menjalani kehidupan ini. Tapi jika kita percaya,
apapun yang terjadi baik ataupun buruk menurut Allah itu yang terbaik,
insyaAllah jika kita terima dan menjalankan dengan meng-ikhtiar-kan sesuai
kemampuan kita maka hadiah-Nya bukan hanya kita dapatkan di dunia tapi juga di
akhirat insyaAllah. So, Do Everything Lillaahi Ta’ala.
Malang, 10 Juli 2018
Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar