Selasa, 10 Juli 2018

SYAWAL BERKISAH (2)




........................................

Syawal-ku kali ini (Part 3) kembali pada kisah perpisahan. Dimasa kuliah, penulis emang gak bisa diem (Hehe). Selain kuliah, si penulis juga berusaha aktif di berbagai organisasi yang jelas beresiko tidak bisa merasakan jadi anak kuliahan yang utuh, liburan kediskon, penat dan lelah luar biasa, dan emang gak bisa diem alias ada aja yang kudu dikerjakan insyaAllah sahabat-sahabat yang aktif semasa kuliah ngerti lah gimana rasanya ya. Dan yang tak terbayangkan, berani-beraninya nih si penulis nantangin diri buat jadi tentor les privat (ingin tepok jidat kan, hehe). Bergabung dengan lembaga bimbingan belajar penulis lakoni dengan target mengajar 5 kali pertemuan dalam seminggu dan itu dikerjakan seusai jam kuliah begitulah setiap harinya. Seneng sih karena juga passion tapi banyak dukanya juga, sampe pernah nangis ingin menyerah, lalu kembali terpikir dalam diri bahwa “Ini resiko dari pilihanmu sendiri lay, lalu apakah kamu juga tidak akan amanah, kamu harus bertanggung jawab!” nah semakin juga tercambuk semangat mengingat lagi ternyata begini susahnya cari uang. Penulis bukanlah dari keluarga yang berada, jadi saat itu juga berpikir bagaimana caranya bisa membantu orangtua. Terbayang gimana kedua orangtua saat itu mencari rezeki dengan susah payah. Banyak teman bertanya “gimana caramu bagi waktu? Kenapa bisa kuat begitu?” dan alasan tadi adalah salah satu alasan terkuat hingga akhirnya memberanikan diri untuk mencoba jadi tentor dan alhamdulillaah bisa berjalan dengan baik meski rintangan sangat banyak dan harus ada hal yang dikorbankan.  Tapi tetap tidak sebanding dengan pertanyaan gimana lelahnya kedua orangtua kita mencari nafkah kan? Saat kita mungkin enak aja minta uang saat dompet kosong bahkan terkadang uang itu untuk keperluan yang kita ingini bukan yang kita butuhkan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki dan kesehatan untuk kedua orangtua kita. Aaamiin allaahumma aamiin.

Setiap kesulitan ada kemudahan. Dibalik lelah, penat, dan duka mencoba bekerja sambil kuliah tapi ada hadiah Allah yang luar biasa dibaliknya. Alhamdulilaah dengan rezeki hasil mengajar bisa sedikit membantu uang jajan dan membayar  printilan-printilan kebutuhan kuliah lainnya. Meski sedikit, tapi puas hati mengingat perjuangan menjemput rezeki itu. Dari rezeki itu pula Allah mewujudkan impian pergi ke Bandung yang sudah tertulis rapi di wishlist untuk bertemu dengan sahabat tercinta di Bandung dan merasakan romantisnya Bandung yang dari dulu diidamkan. Keuntungan selanjutnya adalah bisa melupakan hal-hal yang mungkin gak faedah contohnya akibat dari kisah Part 1 tuh, hehe. Nah karena padatnya jadwal kuliah dan jam mengajar les, jadi gak ada waktu deh untuk memikirkan hal-hal lain yang saat ini belum penting, bisa coba move-on dengan ngerjain kegiatan-kegiatan positif. Beneran deh ini jurus ampuh buat yang susah move-on, susah ngelupain si dia, lagi ada masalah, lagi merasa jomblo parah, jurus ini kudu dicoba (Hehe) 

Sibukkan dirimu dengan kegiatan positif meski agak padat gak apalah asalkan kegiatannya positif apalagi bisa menghasilkan dan bawa manfaat buat diri kita dan orang lain. Sok atuh kerjakanlah! Jangan lupa sertai dengan doa pada Allah dan doa restu kedua orangtua kita, insyaAllah apa-apa lancar deh, Believe it!. Satu hal lagi hadiah yang gak akan terlupakan adalah salah satu siswa les yang punya cerita tersendiri, satu-satunya siswa yang protes kalu dipanggil adek, panggilan akrabnya “abang”, wkwk. Baiklah akhirnya mbak lay (sebutannya kepada penulis) harus kudu manggilnya abang, gak apa juga sih lumayan mbak lay punya abang juga akhirnya, wkwk. Mengajar siswa ini butuh cara khusus, gak bisa diem, belajar kudu ada break mainnya, belajar kudu easy going, belajar kudu telaten dan sabar extra terutama matematika. Banyak tantangan dan greget selama mengajar si abang, Qodarullah walhamdulillaah mengajar si abang semenjak duduk kelas 5 SD hingga selesai UN memberikan perkembangan yang berarti, memang selain mbak lay juga ada guru privat lainnya yang menggantikan mbak lay selama mbak lay ujian atau sedang praktek, tapi kata mami (ibu si abang) abang itu manjanya sama mbak lay aja, nyantolnya sama mbak lay, kalau mbak lay gak ada mesti ditanyain. Ya begitulah kurang lebih gambaran si abang. Siswa les serasa adik sendiri, dekat dengan keluarganya pun serasa hadiah Allah yang luar biasa dan saat ini pun Allah memberikan izin untuk tinggal bersama keluarga ini di Malang (setelah hampir 4 tahun berpredikat sesepuh asrama kampus, wkwk). Semoga Allah selalu memberikan perlindungan dan rahmat yang berlimpah untuk keluarga terbaik di Malang ini. Tapi kemarin hari yang cukup menyesakkan, yap inilah perpisahan Syawal kali ini, abang kini sudah SMP dan memutuskan untuk menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Pasuruan. Bocah yang sangat dekat dengan mami dan kakak perempuannya ini untuk pertama kalinya hijrah meninggalkan rumah ke pondok. Tapi tujuanmu baik bang, setelah ridho mami kau gapai, gapailah ridho Allah ya Bang. Doa mbak lay, mami, dan kakak insyaAllah mengalir terus buat abang. Memang rumah terasa berbeda tanpa si abang, yang suka jahilin mami dan kakak, yang suka gangguin mbak lay garap skripsi, yang suka meramaikan rumah dengan suaranya ala bocah. Semoga abang disana dimudahkan menyerap ilmu dan dijadikan santri yang sholeh ya, bukan santri yang mbambess ( mbambes : kata-kata candaan abang yang sering dilontarkan, wkwk). Semangat Le,

Wah cukup panjang juga cerita kali ini, maafkan ke-loss-an ini ya sahabat, sedikit menghibur diri ditengah kepenatan ini dengan menulis. Sekali lagi apa yang laila tulis bukan bermaksud riya’ atau lainnya, tapi juga mengingatkan diri sendiri dan mensyukuri apa-apa yang telah Allah beri. Semoga sahabat-sahabat sedikit atau banyak bisa mendapatkan sesuatu dari tulisan ini, semoga sesuatu itu pun positif. Mengingatkan diri kita sekali lagi bahwa hidup itu tidak mudah, ada suka dan duka, tapi jika orientasi kita hanya dunia maka lama-kelamaan kita akan capek menjalani kehidupan ini. Tapi jika kita percaya, apapun yang terjadi baik ataupun buruk menurut Allah itu yang terbaik, insyaAllah jika kita terima dan menjalankan dengan meng-ikhtiar-kan sesuai kemampuan kita maka hadiah-Nya bukan hanya kita dapatkan di dunia tapi juga di akhirat insyaAllah. So, Do Everything Lillaahi Ta’ala.


Malang, 10 Juli 2018

Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar