Selasa, 10 Juli 2018

SYAWAL BERKISAH (2)




........................................

Syawal-ku kali ini (Part 3) kembali pada kisah perpisahan. Dimasa kuliah, penulis emang gak bisa diem (Hehe). Selain kuliah, si penulis juga berusaha aktif di berbagai organisasi yang jelas beresiko tidak bisa merasakan jadi anak kuliahan yang utuh, liburan kediskon, penat dan lelah luar biasa, dan emang gak bisa diem alias ada aja yang kudu dikerjakan insyaAllah sahabat-sahabat yang aktif semasa kuliah ngerti lah gimana rasanya ya. Dan yang tak terbayangkan, berani-beraninya nih si penulis nantangin diri buat jadi tentor les privat (ingin tepok jidat kan, hehe). Bergabung dengan lembaga bimbingan belajar penulis lakoni dengan target mengajar 5 kali pertemuan dalam seminggu dan itu dikerjakan seusai jam kuliah begitulah setiap harinya. Seneng sih karena juga passion tapi banyak dukanya juga, sampe pernah nangis ingin menyerah, lalu kembali terpikir dalam diri bahwa “Ini resiko dari pilihanmu sendiri lay, lalu apakah kamu juga tidak akan amanah, kamu harus bertanggung jawab!” nah semakin juga tercambuk semangat mengingat lagi ternyata begini susahnya cari uang. Penulis bukanlah dari keluarga yang berada, jadi saat itu juga berpikir bagaimana caranya bisa membantu orangtua. Terbayang gimana kedua orangtua saat itu mencari rezeki dengan susah payah. Banyak teman bertanya “gimana caramu bagi waktu? Kenapa bisa kuat begitu?” dan alasan tadi adalah salah satu alasan terkuat hingga akhirnya memberanikan diri untuk mencoba jadi tentor dan alhamdulillaah bisa berjalan dengan baik meski rintangan sangat banyak dan harus ada hal yang dikorbankan.  Tapi tetap tidak sebanding dengan pertanyaan gimana lelahnya kedua orangtua kita mencari nafkah kan? Saat kita mungkin enak aja minta uang saat dompet kosong bahkan terkadang uang itu untuk keperluan yang kita ingini bukan yang kita butuhkan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki dan kesehatan untuk kedua orangtua kita. Aaamiin allaahumma aamiin.

Setiap kesulitan ada kemudahan. Dibalik lelah, penat, dan duka mencoba bekerja sambil kuliah tapi ada hadiah Allah yang luar biasa dibaliknya. Alhamdulilaah dengan rezeki hasil mengajar bisa sedikit membantu uang jajan dan membayar  printilan-printilan kebutuhan kuliah lainnya. Meski sedikit, tapi puas hati mengingat perjuangan menjemput rezeki itu. Dari rezeki itu pula Allah mewujudkan impian pergi ke Bandung yang sudah tertulis rapi di wishlist untuk bertemu dengan sahabat tercinta di Bandung dan merasakan romantisnya Bandung yang dari dulu diidamkan. Keuntungan selanjutnya adalah bisa melupakan hal-hal yang mungkin gak faedah contohnya akibat dari kisah Part 1 tuh, hehe. Nah karena padatnya jadwal kuliah dan jam mengajar les, jadi gak ada waktu deh untuk memikirkan hal-hal lain yang saat ini belum penting, bisa coba move-on dengan ngerjain kegiatan-kegiatan positif. Beneran deh ini jurus ampuh buat yang susah move-on, susah ngelupain si dia, lagi ada masalah, lagi merasa jomblo parah, jurus ini kudu dicoba (Hehe) 

Sibukkan dirimu dengan kegiatan positif meski agak padat gak apalah asalkan kegiatannya positif apalagi bisa menghasilkan dan bawa manfaat buat diri kita dan orang lain. Sok atuh kerjakanlah! Jangan lupa sertai dengan doa pada Allah dan doa restu kedua orangtua kita, insyaAllah apa-apa lancar deh, Believe it!. Satu hal lagi hadiah yang gak akan terlupakan adalah salah satu siswa les yang punya cerita tersendiri, satu-satunya siswa yang protes kalu dipanggil adek, panggilan akrabnya “abang”, wkwk. Baiklah akhirnya mbak lay (sebutannya kepada penulis) harus kudu manggilnya abang, gak apa juga sih lumayan mbak lay punya abang juga akhirnya, wkwk. Mengajar siswa ini butuh cara khusus, gak bisa diem, belajar kudu ada break mainnya, belajar kudu easy going, belajar kudu telaten dan sabar extra terutama matematika. Banyak tantangan dan greget selama mengajar si abang, Qodarullah walhamdulillaah mengajar si abang semenjak duduk kelas 5 SD hingga selesai UN memberikan perkembangan yang berarti, memang selain mbak lay juga ada guru privat lainnya yang menggantikan mbak lay selama mbak lay ujian atau sedang praktek, tapi kata mami (ibu si abang) abang itu manjanya sama mbak lay aja, nyantolnya sama mbak lay, kalau mbak lay gak ada mesti ditanyain. Ya begitulah kurang lebih gambaran si abang. Siswa les serasa adik sendiri, dekat dengan keluarganya pun serasa hadiah Allah yang luar biasa dan saat ini pun Allah memberikan izin untuk tinggal bersama keluarga ini di Malang (setelah hampir 4 tahun berpredikat sesepuh asrama kampus, wkwk). Semoga Allah selalu memberikan perlindungan dan rahmat yang berlimpah untuk keluarga terbaik di Malang ini. Tapi kemarin hari yang cukup menyesakkan, yap inilah perpisahan Syawal kali ini, abang kini sudah SMP dan memutuskan untuk menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Pasuruan. Bocah yang sangat dekat dengan mami dan kakak perempuannya ini untuk pertama kalinya hijrah meninggalkan rumah ke pondok. Tapi tujuanmu baik bang, setelah ridho mami kau gapai, gapailah ridho Allah ya Bang. Doa mbak lay, mami, dan kakak insyaAllah mengalir terus buat abang. Memang rumah terasa berbeda tanpa si abang, yang suka jahilin mami dan kakak, yang suka gangguin mbak lay garap skripsi, yang suka meramaikan rumah dengan suaranya ala bocah. Semoga abang disana dimudahkan menyerap ilmu dan dijadikan santri yang sholeh ya, bukan santri yang mbambess ( mbambes : kata-kata candaan abang yang sering dilontarkan, wkwk). Semangat Le,

Wah cukup panjang juga cerita kali ini, maafkan ke-loss-an ini ya sahabat, sedikit menghibur diri ditengah kepenatan ini dengan menulis. Sekali lagi apa yang laila tulis bukan bermaksud riya’ atau lainnya, tapi juga mengingatkan diri sendiri dan mensyukuri apa-apa yang telah Allah beri. Semoga sahabat-sahabat sedikit atau banyak bisa mendapatkan sesuatu dari tulisan ini, semoga sesuatu itu pun positif. Mengingatkan diri kita sekali lagi bahwa hidup itu tidak mudah, ada suka dan duka, tapi jika orientasi kita hanya dunia maka lama-kelamaan kita akan capek menjalani kehidupan ini. Tapi jika kita percaya, apapun yang terjadi baik ataupun buruk menurut Allah itu yang terbaik, insyaAllah jika kita terima dan menjalankan dengan meng-ikhtiar-kan sesuai kemampuan kita maka hadiah-Nya bukan hanya kita dapatkan di dunia tapi juga di akhirat insyaAllah. So, Do Everything Lillaahi Ta’ala.


Malang, 10 Juli 2018

Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

SYAWAL BERKISAH (1)





Bismillaah..
Alhamdulillaah masih diberikan kesempatan untuk dapat membuat coretan kisah ditengah detik-detik akhir perjalanan di kampus tercinta. Penelitian baru saja usai, suka-duka yang sangat terasa apalagi duka menjadi pemicu semangat untuk dapat berbuat lebih dan tentu efeknya banyak, berat badan sih turun tapi pipi kok ngembang, wkwk. “Makin chubby aja lay”, barusan kata salah seorang teman. Kujawab saja (ngeles kali yaa) “Oh, ini mungkin efek bahagia insyaAllah ntar mau ketemu dosbing dan penguji di sidang” Aamiin. Efek lainnya dari hal ini adalah menulis, yap menulis menjadi salah satu cara ampuh ditengah-tengah ke-hectic-an ini. Semoga tulisan kali ini bisa memberi manfaat ataupun inspirasi, kalau pun tidak, terimakasih banyak telah membaca coretan kisah yang penulis tuangkan untuk melepas penat ini. Doakan tulisannya juga semakin berkembang ya.. Hehe

Bulan ini masih Syawal yang terhitung kurang 3 hari lagi lho, hayo siapa sahabat semua yang mau meng-qada’ puasa atau mau nambahin puasa syawalnya yang belum genap 6 hari, yuk disegerakan untuk kebaikah mah gak baik ditunda-tunda kan. Karena hari ini masih Syawal, izinkan saya menyampaikan kisah-kisah yg sudah terlewati selama beberapa Syawal. Kenapa Syawal? Syawal juga memiliki beberapa keutamaan antara lain puasa satu tahun, dalam sebuah hadist “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di Bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no.1164). Keutamaan lainnya bulan Syawal juga disebut  bulan pernikahan. Yap, pada zaman Rasulullaah ada keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah yang menganggap bahwa menikah di Bulan Syawal adalah kesialan dan tidak membawa berkah, Rasulullaah membantah keyakinan itu dengan menikahi Aisyah Radiallaahu ‘anha. Aisyah Radiallaahu ‘anha menceritakan, “Rasulullaah menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka istri-istri Rasululullah yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku,” (Perawi) berkata, “Aisyah dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim). MasyaAllah, maka beruntunglah sahabat dan saudariku yang telah menyempurnakan separuh agamanya di bulan Syawal. Bagi yang belum beruntung, masih banyak waktu insyaAllah untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu, tenang... Allah akan datangkan di waktu yang tepat dan dalam keadaan siap. Tapi siap apa dulu ya? siap menikah atau siapkah kita dijemput oleh Malaikat Izrail? Ih kok pertanyaannya ngeri lay? Nah kita tidak bisa tahu siapakah yang akan mendahului tapi yang pasti kita bisa siapkan diri kita mulai sekarang. Let’s do everything Lillaahi Ta’ala..

Syawal kala itu (Part 1) sebuah Perpisahan. Perpisahan mengajarkan bahwa semua yang ada di dunia tidak akan abadi apakah itu hanya singgah lalu pergi, atau pergi lalu tak terlihat lagi karena telah kembali ke haribaanya. Perpisahan mengajarkan ikhlas, sabar, dan menantang sejauh mana kuatnya hati kita menerima ketetapan Allah. Yap ikhlas, mengikhlaskan bukan sekedar melepas, mengikhlaskan berarti menyerahkan segala keputusan dan menerima ketentuan-Nya (Trilogi Cinta Positif). Tak dipungkiri mungkin diawal perpisahan terasa sesak yang amat dalam, tapi ingatlah itu pertanda bahwa Allah mencemburui seseorang yang mencintai makhluk-Nya melebihi cinta kepada Allah. Lalu apa yang bisa dilakukan? Bertahanlah, bertahanlah dari hawa nafsu, ini bukan saatmu, bukankah tidak ada obat diantara 2 orang yang saling mencintai selain menikah, maka jalan selain itu tinggalkanlah tanpa menggunakan ‘tapi’ sebagai bukti cintamu kepada Allah. Godaan syaitan cukup berat pada hamba Allah yang sedang jatuh cinta, apapun bisa saja dilakukan. Maka banyaklah beristighfar, mohon ampun pada Allah agar menetapkan hati ini selalu ada di jalan-Nya. Dan tidak ada jalan lain selain halalkan atau tinggalkan. Maka sebenarnya, itulah bukti cintamu yang sesungguh-Nya, kau menghindarinya dari menabung dosa, kau menghindari perasaan cinta yang fitrah agar tidak ternoda, kau mengutamakan ketaatan kepada Allah sebagai bukti cinta-Mu kepada-Nya. Kutipan kalimat Tere Liye “Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi ‘hadiah’ yang hebat untuk oramg-orang yang bersabar. Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar”. Maka ingatlah janji Allah, barangsiapa mencintai Allah, maka Allah akan berikan cinta-Nya dari segala penjuru, termasuk cinta si dia untukmu. Jika ia memang jodohmu, Allah yang akan menggerakkan hatinya, Allah yang akan memudahkan langkahnya menujumu. Maka, sekali lagi do everything Lillaahi Ta’ala.

Syawal selanjutnya (Part 2) indahnya Pertemuan. Kisah pertemuan ini bukan lanjutan kisah dari part 1 ya sahabat, kelanjutan episode part 1 sudah diserahkan pada Allah bagaimana rangkaian kisah dari-Nya akan terjawab disaat yang tepat (Mohon doanya yaa..). Kisah pertemuan indah kali ini melahirkan sesuatu yang membuat banyak orang terengah dan rindu. Kenapa terengah? Ya, karena pertemuan ini bermula dari 2 orang sahabat yang hanya menyampaikan impian yang sama ya hanya sekedar obrolan biasa. Lalu bagaimana mewujudkannya? Ada saja jalannya, kami berdua mencoba mewujudkan impian itu dengan menyambung silaturrahiim, menghubungi sahabat-sahabat semasa SMA yang Qodarullaah mereka sangat antusias untuk sama-sama membangun komunitas ini. Hingga akhirnya kami menamakan komunitas ini ‘Sahabat Muslimah Bondowoso’ yang mempunyai harapan besar untuk saling menyambung silaturrahiim sesama sahabat muslimah di kota kami tercinta, berbagi pengalaman positif, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menyemangati dalam hijrah di jalan Allah, as we know lah hijrah sendirian itu nggak asik, ya kan. Dan jelas terlihat antusiasme sahabat-sahabat Bondowoso yang luar biasa, tepat pada bulan Syawal kita pun berhasil mengadakan seminar kemuslimahan pertama di Bondowoso dan yang ikutan juga gak sedikit lho, diluar ekspektasi malah, bahagianya luar biasa. Kesan dan pesan positif banyak mendukung perjalanan kami membangun komunitas SMB ini, bersama 2 orang senior keren yang menjadi penasihat kami serta sahabat-sahabat komite SMB yang ghiroh-nya luar biasa kami membuat berbagai program khusus untuk sahabat-sahabat yang sudah bergabung dengan SMB. Meskipun program kami kebanyakan hanya via online, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk terus saling mengingatkan dan menyemangati dalam kebaikan. Banyak sahabat yang sangat mengapresiasi komunitas ini, mereka mengatakan ingin selalu ada di grup SMB yang insyaAllah bisa terus belajar dan memotivasi untuk istiqomah, manfaat yang didapat juga sangat banyak, MasyaAllah, Barokallah SMB. Akhir-akhir ini kami tahu banyak sahabat-sahabat SMB yang rindu dengan keramaian grup lagi, sabar ya sahabat, sebentar lagi insyaAllah, karena kebanyakan komite SMB adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang dengan tugas akhirnya. InsyaAllah kita akan segera bersua kembali, titip doa untuk SMB dan kita semua agar selalu istiqomah berada di jalan dakwah yang Allah ridhoi. Aaamiin
(Buat para pembaca yang masih penasaran dgn SMB, soon penulis akan berkisah lebih dalam tentang SMB ya, dan sahabat muslimah yang penasaran ingin bergabung dengan SMB harap bersabar menunggu open recruitment lagi ya. It’s my unexpected experience ever, Doakan yang terbaik untuk SMB ya sahabat..)


.......................................to be continued.......................................
   SYAWAL BERKISAH (2)

SAHABAT SEHIDUP SESURGA




Bismillaah..
Masih kuingat langkah awal perpisahan dengan kotaku tercinta. Memang bukan kali pertama bagiku pergi keluar kota untuk beberapa hari, namun kali ini berbeda karena mungkin akan bertahun-tahun. Cuaca cukup cerah kala itu, tapi tak bisa kurasakan begaimana cuaca hatiku, mungkinkah mendung?  Karena ini akan menjadi pengalaman pertamaku merantau, tinggal jauh dari keluarga, teman, dan sahabatku. Atau mungkin cuaca hatiku juga sedikit cerah? Terbayang mungkin disana, di tempat bernaungku nanti akan ada sambutan hangat dari “rumah” baruku dan mungkin juga teman atau sahabat yang baru. Entahlah, tak begitu kupikirkan saat itu. Yang jelas aku pergi dengan membawa restu kedua orangtua untuk menuntut ilmu sebaik mungkin, keyakinan yang terus kubulatkan, bahwa aku pasti bisa.
Pergantian siang-malam, pergantian musim mengiringi pula pergantian semester perkuliahan tak terasa terus menunjukkan bahwa aku bisa melewati fase merantau ini dengan perlahan tapi pasti. Kisahku selama di perantauan persis syair Imam Syafi’i yang pernah kubaca dalam salah satu novel favorit :
Orang pandai dan beradab tidak akan diam di kampung halaman,
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang,
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan,
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang,

Kucoba uraikan 2 poin penting dalam syair itu dalam sudut pandangku, yang pertama bahwa dengan merantau kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Dan itu benar terjadi, Allah mempertemukanku dengan kawan-kawan yang punya semangat sama untuk menimba ilmu di kampus kesehatan yang kami pilih kini, kawan-kawan yang mempunyai semangat yang sama untuk berdakwah dan berseru saling mengingatkan akan kebajikan dan kesabaran, kawan-kawan yang tak hentinya memberi dukungan dan do’a bagaimanapun kondisi yang dilalui, dengan atau tanpa ada ujian doa itu bagaikan terus mengalir. Sahabat rasa keluarga juga Allah satukan di tempat bernaungku kini, mereka adalah kawan-kawanku dari suatu daerah dengan sebutan Surga yang Tersembunyi “Bondowoso”. Tetapi di bagian bumi yang berbeda ini kami tak bersembunyi. Justru dari cinta, semangat dan keinginan mulia untuk kota kami perlahan mulai terwujud.

“Sahabat Muslimah Bondowoso” begitulah kami menyebutnya, suatu harapan besar kami lahir dari sana. Meski berawal dari lima orang mahasiswi asal daerah yang sama, tempat rantauan yang sama pula, tetapi cintalah yang akhirnya menyatukan kami dengan bebarapa sahabat kami dari Bondowoso lainnya meski daerah rantau kami berbeda-beda. Bak memiliki radar yang sama, kami sepakat dan berangkat dengan tujuan mulia untuk membangun muslimah Bondowoso menjadi lebih baik, mampu melihat dunia lebih luas seperti apa yang juga kami lihat di perantauan kami masing-masing, membuka cakrawala lebih luas lagi. Dan begitulah keajaiban niat baik, selalu diikuti oleh aktifitas-aktifitas kebaikan berikutnya. Hingga akhirnya ikatan ukhuwah penuh cinta pun lahir dari beberapa aktifitas yang kami lakukan dalam komunitas kami.

Poin yang kedua adalah bekerja keraslah, maka manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang. Ya, memang tak mudah bagi kami para perantau berjuang di tempat yang baru kami kenal. Beradaptasi dengan lingkungan asing, belajar siang dan malam ditemani tumpukan tugas, tapi disela kesibukan itu tak lepas pula euforia mengikuti berbagai kajian ustadz/ustadzah ternama Indonesia yang belum pernah datang di daerah asalku. Tujuannya hanya satu, memetik hikmahnya dan menyimpan ilmu rapat-rapat dalam kalbu. Untuk apa? Agar kelak kami merasakan manisnya ilmu yang barokah yang dapat kami bawa kembali ke tanah kelahiran kami, menanamnya, merawatnya hingga tumbuh sempurna dan hasilnya akan membawa manfaat untuk orang banyak.

Teruntuk sahabatku di perantauan dan sahabatku dimanapun kalian berada, perlulah kalian tahu aku mencintai kalian karena Allah, Allah yang mempertemukan dan menyatukan kita hingga erat ukhuwah ini dengan tujuan yang mulia. Anas bin Malik berkata “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya”, maka kuharap cinta yang kita bangun akan mempertemukan kita lagi nanti di tempat yang kekal, surga yang kita nantikan.

Teruntuk sahabatku, adik-adikku yang akan merantau untuk tujuan yang baik, untuk menuntut ilmu. Merantaulah, kau akan benar-benar mengerti apa artinya rindu, apa artinya berjuang dengan dirimu sendiri, dan kau akan mengerti betapa Allah Maha Baik akan mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang sangat baik yang bahkan belum pernah kita kenal sebelumnya. Rangkailah kisahmu bersama sahabat terbaikmu hingga ke surga nanti, InsyaAllah.

“Perbanyakkanlah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat” (Al-Hasan Al-Bashri).



Malang, April 2018

Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

Sabtu, 21 April 2018

Allah, Aku, dan Dakwah



Bismillaah..
Ah, dulu sempat aku berpikir bahwa dakwah itu kaku, maksudnya hanya sekedar seorang da’i berdiri diatas mimbar dan menyampaikan ceramah tentang kebaikan-kebaikan. Definisi dakwah yang kupikirkan diawal itu memang salah satu perwujudan dakwah, namun semakin lama aku mencoba memahaminya, apakah dakwah hanya sebatas itu?. Dakwah itu bermakna luas kawan. Menurutku poinnya adalah menyampaikan. Dan apakah yang disampaikan itu? Tentu kebaikan. Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Kalimat Allah yang indah menjelaskannya “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-‘Asr ayat 1-3) dan sebuah amanah indah baginda Rasulullaah “Ballighul anni walau aayah” sampaikanlah sesuatu dariku, walau hanya sepotong ayat. Ya, sampaikan, saling menasihati dalam kebaikan, dalam mengingat Allah itulah dasar dakwah. Tanpa harus berpredikat ustadz atau ustadzah, tanpa predikat lulusan pendidikan agama, ataupun seorang yang dianggap alim yang hanya bisa melaksanakan dakwah. Oh tentu tidak, persyaratan tersebut tidak tertulis dalam ayat Al-Qur’an dan hadist bukan? Setiap manusia adalah khalifah, Allah memberi amanah yang sama pada manusia untuk menjaga bumi Allah, untuk menebar kebaikan pada setiap makhluk-Nya. Dan salah satunya dengan dakwah, setiap manusia mempunyai kewajiban yang sama untuk menyampaikan kebaikan, untuk saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan bersabar.

Lalu, apakah dakwah itu susah?,
Sebenarnya mudah, hanya menyampaikan saja, kan. Tapi pun tak semudah itu, baginda Rasulullaah berkali-kali ditolak, dicaci maki, bahkan dibenci dalam misi mendakwahkan Islam, bahkan harus berdakwah secara diam-diam. Memang sekedar menyampaikan adalah misi pendakwah. Tapi bagaimana kebaikan-kebaikan yang disampaikan benar-benar bisa merasuk jiwanya dan menyentuh hatinya untuk semakin dekat dengan Allah.  Dan yang terpenting dari itu semua adalah kita berani menyampaikan kebaikan itu dan telah melaksanakan kebaikan-kebaikan itu pula dalam kehidupan kita.

Dan benar kurasakan ketika Allah menyentuh hatiku, Aku mencoba semakin mendekat pada-Nya, dan Dakwah menjadi salah satu jalan yang kupilih untuk terus mendekat kepada Allah...
Tahun 2012 saat aku pertama kali masuk Rohis di SMA yang sekaligus menjadi pengalaman pertamaku bergabung di Rohis. Kelas 10 saat pertama aku mengenakan seragam SMA lengkap dengan khimarnya, menurutku dengan bergabung di Rohis, proses hijrahku akan istiqomah dan berharap menjadi lebih baik. Tak terpikir sama sekali waktu itu tujuan berdakwah, hanya sebatas membantu proses hijrahku saja. Tahun 2012 akhir menjadi awal mengubah tujuanku di Rohis, setelah mendapat amanah untuk menghidupkan rohis di kepengurusan yang baru. Pikirku saat itu, tujuan yang pertama kali ada di benakku saat bergabung di Rohis waktu itu bukan kupikirkan sendiri apakah tujuan itu tercapai atau tidak, tapi bagaimana teman-teman anggota Rohis yang lain juga dapat mencapai tujuannya bergabung di Rohis. Memang saat SMA kami mungkin tak terpikir banyak hal untuk proses hijrah yang lagi booming sekarang, bisa menjalankan program kajian meski belum begitu rutin, program sosial, dan yang paling aku suka adalah ikatan antar anggota di dalamnya. Entah kenapa sejak awal masuk Rohis aku merasa nyaman, bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman rohis yang tak jauh dari mengingatkan dalam kebaikan, belajar berorganisasi, dan tentu candaan khas anak SMA masih ada. Hingga akhir kepengurusan, kunci penting dari pengalaman bersama Rohis di SMA adalah aku mulai berani untuk menyampaikan sesuatu hal di depan orang banyak, meski kebanyakan berbicara tentang organisasi tapi aku berusaha untuk tak melupakan kalimat pengingat agar terus istiqomah berada di jalan kita sekarang. Dan akhirnya sebagai konsekuensi aku pun harus melaksanakan apa yang telah kusampaikan, bukan sekedar menjadi contoh, tetapi bentuk pertanggungjawabanku kepada Allah tentang amanahku saat itu. Dan hal itulah yang membentuk diriku di SMA, menjadi tamparan keras bagiku ketika aku melanggar sendiri apa yang aku sampaikan pada teman-teman Rohis, menjadi acuan semangat bagiku untuk menjadi anak Rohis yang sebenar benar anak Rohis yang bisa menyampaikan dan melaksanakan kebaikan, belajar menentukan mana yang haq dan yang batil sepengetahuanku saat itu. Hingga akhirnya aku pun bertekad untuk terus menjadi anak rohis dan melanjutkan perjuangan yang membuatku nyaman di bangku perkuliahan nanti, mencari lebih banyak ilmu agama agar aku bisa menyampaikan kebaikan-kebaikan itu dengan lebih baik dan dengan ilmu.

Tahun 2014, awal pertemuanku dengan Rohis di kampus. Tak usah berpikir lagi, kuputuskan dengan niat Lillaah untuk bergabung. Dan yang kurasakan lebih indah dari yang kubayangkan sebelumnya, Allah mengabulkan doa-doaku untuk didekatkan dengan orang-orang yang baik. Mbak-mbak (senior) di Rohis waktu itu menyambut dengan senyum ramah dan “adem” di hati membuatku semakin nyaman berada di dalamnya. Kegiatan di Rohis kampus aku rasa sangat lebih baik dari yang pernah kualami sebelumnya, kegiatan kajian yang lebih banyak, program-program rohis yang keren, dan mentoring/halaqah/liqo’ yang memberi perubahan banyak dalam masa-masaku mengenal lebih dalam tentang Islam. Ada dua amanah penting yang Allah dan kakak senior Rohis percayakan padaku saat itu, kepengurusan yang kupegang ragu-ragu awalnya tapi bersama teman-teman yang kupercaya adalah sahabat surga yang memang luar biasa sifat dan ghirahnya kami memulai dengan tekad yang kuat membangun Rohis di kampus untuk semakin menebar manfaat. Saat itu pula, aku diberi kesempatan untuk berdakwah dalam lingkaran kecil yang memang dibentuk oleh Rohis kami. Kadang merasa tak pantas  aku duduk diantara lingkaran itu dan berdiskusi tentang Islam, tetapi suatu ketika mbak-mbak senior di Rohis berpesan “Dek, yang lebih senior jadi panutan itu hukum alam. Dan itulah yang melekat pada diri kalian sekarang, jadilah contoh yang baik, sampaikan terus kebaikan, jangan lelah, meski adik-adikmu tak antusias, lakukan terus, jalan dakwah itu tak mulus, kamu akan diuji dan akan ada yang dikorbankan, waktumu, tenagamu, bahkan mungkin materi tapi Allah tahu apa yang kamu lakukan, niatkan untuk ibadah. InsyaAllah hatimu akan selalu lapang dan tenang berada di majelis itu.” Terimakasih mbak, mas, mentor-mentor liqo’, akhawati fillaah, dan adik-adik tercinta, bagiku kalian adalah saudara seiman dengan visi yang sama berjuang dalam dakwah. Dari kalian pula semangat dakwah itu berkobar hingga kini, semoga majelis-majelis itu juga kita bawa hingga di syurga nanti, Barokallaahu fiikum.

Dan Allah yang Maha membolak-balikkan hati setiap manusia. Tetapkanlah kami dalam keadaan Islam dan mencintai dakwah dimanapun kami berada. Tak hentinya mengucap rasa syukur atas setiap kejadian dalam hidup yang semua Allah sudah tuliskan di Lauhul Mahfudz, pun begitu dengan kalian sahabatku, mungkin cerita kita mengenal dakwah berbeda, tapi yang penting ingatlah tiap kita mengemban amanah untuk berdakwah. Mulai sekarang bertekadlah untuk mengingatkan kebaikan pada orang lain, meskipun sekali dalam sehari. Bukankah sekarang lebih banyak cara dan mudah bagi kita untuk berdakwah? Melalui tulisan-tulisanmu, postingan bermanfaat lewat sosmedmu, bahkan bisa sharing artikel ataupun poster digital berisi pesan kebaikan. Hal-hal kebaikan yang kita sebarkan tentu juga akan menjadi pengingat bagi kita untuk terus berbuat kebaikan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bukankah itu yang akan membuat hati kita menjadi tenang? Jika tak percaya maka cobalah, dan buatlah kisahmu yang berharga tentang Allah, Dirimu, dan Dakwah.

Malang, Maret 2018
Lailatul Qomariyah Elok Nurintani