Selasa, 10 Juli 2018

SYAWAL BERKISAH (1)





Bismillaah..
Alhamdulillaah masih diberikan kesempatan untuk dapat membuat coretan kisah ditengah detik-detik akhir perjalanan di kampus tercinta. Penelitian baru saja usai, suka-duka yang sangat terasa apalagi duka menjadi pemicu semangat untuk dapat berbuat lebih dan tentu efeknya banyak, berat badan sih turun tapi pipi kok ngembang, wkwk. “Makin chubby aja lay”, barusan kata salah seorang teman. Kujawab saja (ngeles kali yaa) “Oh, ini mungkin efek bahagia insyaAllah ntar mau ketemu dosbing dan penguji di sidang” Aamiin. Efek lainnya dari hal ini adalah menulis, yap menulis menjadi salah satu cara ampuh ditengah-tengah ke-hectic-an ini. Semoga tulisan kali ini bisa memberi manfaat ataupun inspirasi, kalau pun tidak, terimakasih banyak telah membaca coretan kisah yang penulis tuangkan untuk melepas penat ini. Doakan tulisannya juga semakin berkembang ya.. Hehe

Bulan ini masih Syawal yang terhitung kurang 3 hari lagi lho, hayo siapa sahabat semua yang mau meng-qada’ puasa atau mau nambahin puasa syawalnya yang belum genap 6 hari, yuk disegerakan untuk kebaikah mah gak baik ditunda-tunda kan. Karena hari ini masih Syawal, izinkan saya menyampaikan kisah-kisah yg sudah terlewati selama beberapa Syawal. Kenapa Syawal? Syawal juga memiliki beberapa keutamaan antara lain puasa satu tahun, dalam sebuah hadist “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di Bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no.1164). Keutamaan lainnya bulan Syawal juga disebut  bulan pernikahan. Yap, pada zaman Rasulullaah ada keyakinan dan aqidah Arab Jahiliyah yang menganggap bahwa menikah di Bulan Syawal adalah kesialan dan tidak membawa berkah, Rasulullaah membantah keyakinan itu dengan menikahi Aisyah Radiallaahu ‘anha. Aisyah Radiallaahu ‘anha menceritakan, “Rasulullaah menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan Syawal pula. Maka istri-istri Rasululullah yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku,” (Perawi) berkata, “Aisyah dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim). MasyaAllah, maka beruntunglah sahabat dan saudariku yang telah menyempurnakan separuh agamanya di bulan Syawal. Bagi yang belum beruntung, masih banyak waktu insyaAllah untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu, tenang... Allah akan datangkan di waktu yang tepat dan dalam keadaan siap. Tapi siap apa dulu ya? siap menikah atau siapkah kita dijemput oleh Malaikat Izrail? Ih kok pertanyaannya ngeri lay? Nah kita tidak bisa tahu siapakah yang akan mendahului tapi yang pasti kita bisa siapkan diri kita mulai sekarang. Let’s do everything Lillaahi Ta’ala..

Syawal kala itu (Part 1) sebuah Perpisahan. Perpisahan mengajarkan bahwa semua yang ada di dunia tidak akan abadi apakah itu hanya singgah lalu pergi, atau pergi lalu tak terlihat lagi karena telah kembali ke haribaanya. Perpisahan mengajarkan ikhlas, sabar, dan menantang sejauh mana kuatnya hati kita menerima ketetapan Allah. Yap ikhlas, mengikhlaskan bukan sekedar melepas, mengikhlaskan berarti menyerahkan segala keputusan dan menerima ketentuan-Nya (Trilogi Cinta Positif). Tak dipungkiri mungkin diawal perpisahan terasa sesak yang amat dalam, tapi ingatlah itu pertanda bahwa Allah mencemburui seseorang yang mencintai makhluk-Nya melebihi cinta kepada Allah. Lalu apa yang bisa dilakukan? Bertahanlah, bertahanlah dari hawa nafsu, ini bukan saatmu, bukankah tidak ada obat diantara 2 orang yang saling mencintai selain menikah, maka jalan selain itu tinggalkanlah tanpa menggunakan ‘tapi’ sebagai bukti cintamu kepada Allah. Godaan syaitan cukup berat pada hamba Allah yang sedang jatuh cinta, apapun bisa saja dilakukan. Maka banyaklah beristighfar, mohon ampun pada Allah agar menetapkan hati ini selalu ada di jalan-Nya. Dan tidak ada jalan lain selain halalkan atau tinggalkan. Maka sebenarnya, itulah bukti cintamu yang sesungguh-Nya, kau menghindarinya dari menabung dosa, kau menghindari perasaan cinta yang fitrah agar tidak ternoda, kau mengutamakan ketaatan kepada Allah sebagai bukti cinta-Mu kepada-Nya. Kutipan kalimat Tere Liye “Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi ‘hadiah’ yang hebat untuk oramg-orang yang bersabar. Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar”. Maka ingatlah janji Allah, barangsiapa mencintai Allah, maka Allah akan berikan cinta-Nya dari segala penjuru, termasuk cinta si dia untukmu. Jika ia memang jodohmu, Allah yang akan menggerakkan hatinya, Allah yang akan memudahkan langkahnya menujumu. Maka, sekali lagi do everything Lillaahi Ta’ala.

Syawal selanjutnya (Part 2) indahnya Pertemuan. Kisah pertemuan ini bukan lanjutan kisah dari part 1 ya sahabat, kelanjutan episode part 1 sudah diserahkan pada Allah bagaimana rangkaian kisah dari-Nya akan terjawab disaat yang tepat (Mohon doanya yaa..). Kisah pertemuan indah kali ini melahirkan sesuatu yang membuat banyak orang terengah dan rindu. Kenapa terengah? Ya, karena pertemuan ini bermula dari 2 orang sahabat yang hanya menyampaikan impian yang sama ya hanya sekedar obrolan biasa. Lalu bagaimana mewujudkannya? Ada saja jalannya, kami berdua mencoba mewujudkan impian itu dengan menyambung silaturrahiim, menghubungi sahabat-sahabat semasa SMA yang Qodarullaah mereka sangat antusias untuk sama-sama membangun komunitas ini. Hingga akhirnya kami menamakan komunitas ini ‘Sahabat Muslimah Bondowoso’ yang mempunyai harapan besar untuk saling menyambung silaturrahiim sesama sahabat muslimah di kota kami tercinta, berbagi pengalaman positif, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan saling menyemangati dalam hijrah di jalan Allah, as we know lah hijrah sendirian itu nggak asik, ya kan. Dan jelas terlihat antusiasme sahabat-sahabat Bondowoso yang luar biasa, tepat pada bulan Syawal kita pun berhasil mengadakan seminar kemuslimahan pertama di Bondowoso dan yang ikutan juga gak sedikit lho, diluar ekspektasi malah, bahagianya luar biasa. Kesan dan pesan positif banyak mendukung perjalanan kami membangun komunitas SMB ini, bersama 2 orang senior keren yang menjadi penasihat kami serta sahabat-sahabat komite SMB yang ghiroh-nya luar biasa kami membuat berbagai program khusus untuk sahabat-sahabat yang sudah bergabung dengan SMB. Meskipun program kami kebanyakan hanya via online, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk terus saling mengingatkan dan menyemangati dalam kebaikan. Banyak sahabat yang sangat mengapresiasi komunitas ini, mereka mengatakan ingin selalu ada di grup SMB yang insyaAllah bisa terus belajar dan memotivasi untuk istiqomah, manfaat yang didapat juga sangat banyak, MasyaAllah, Barokallah SMB. Akhir-akhir ini kami tahu banyak sahabat-sahabat SMB yang rindu dengan keramaian grup lagi, sabar ya sahabat, sebentar lagi insyaAllah, karena kebanyakan komite SMB adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang berjuang dengan tugas akhirnya. InsyaAllah kita akan segera bersua kembali, titip doa untuk SMB dan kita semua agar selalu istiqomah berada di jalan dakwah yang Allah ridhoi. Aaamiin
(Buat para pembaca yang masih penasaran dgn SMB, soon penulis akan berkisah lebih dalam tentang SMB ya, dan sahabat muslimah yang penasaran ingin bergabung dengan SMB harap bersabar menunggu open recruitment lagi ya. It’s my unexpected experience ever, Doakan yang terbaik untuk SMB ya sahabat..)


.......................................to be continued.......................................
   SYAWAL BERKISAH (2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar