![]() |
Bismillaah..
Ah, dulu sempat aku
berpikir bahwa dakwah itu kaku, maksudnya hanya sekedar seorang da’i berdiri
diatas mimbar dan menyampaikan ceramah tentang kebaikan-kebaikan. Definisi
dakwah yang kupikirkan diawal itu memang salah satu perwujudan dakwah, namun
semakin lama aku mencoba memahaminya, apakah dakwah hanya sebatas itu?.
Dakwah itu bermakna luas kawan. Menurutku poinnya adalah menyampaikan. Dan
apakah yang disampaikan itu? Tentu kebaikan. Mengingatkan dalam kebaikan dan
kesabaran. Kalimat Allah yang indah menjelaskannya “Demi masa. Sungguh, manusia
berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk
kesabaran.” (Al-‘Asr ayat 1-3) dan sebuah amanah indah baginda Rasulullaah “Ballighul anni walau aayah” sampaikanlah
sesuatu dariku, walau hanya sepotong ayat. Ya, sampaikan, saling menasihati
dalam kebaikan, dalam mengingat Allah itulah dasar dakwah. Tanpa harus berpredikat
ustadz atau ustadzah, tanpa predikat lulusan pendidikan agama, ataupun seorang
yang dianggap alim yang hanya bisa melaksanakan dakwah. Oh tentu tidak,
persyaratan tersebut tidak tertulis dalam ayat Al-Qur’an dan hadist bukan?
Setiap manusia adalah khalifah, Allah memberi amanah yang sama pada manusia
untuk menjaga bumi Allah, untuk menebar kebaikan pada setiap makhluk-Nya. Dan
salah satunya dengan dakwah, setiap manusia mempunyai kewajiban yang sama untuk
menyampaikan kebaikan, untuk saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan
bersabar.
Lalu, apakah dakwah itu
susah?,
Sebenarnya mudah, hanya
menyampaikan saja, kan. Tapi pun tak semudah itu, baginda Rasulullaah
berkali-kali ditolak, dicaci maki, bahkan dibenci dalam misi mendakwahkan
Islam, bahkan harus berdakwah secara diam-diam. Memang sekedar menyampaikan
adalah misi pendakwah. Tapi bagaimana kebaikan-kebaikan yang disampaikan
benar-benar bisa merasuk jiwanya dan menyentuh hatinya untuk semakin dekat
dengan Allah. Dan yang terpenting dari
itu semua adalah kita berani menyampaikan kebaikan itu dan telah melaksanakan
kebaikan-kebaikan itu pula dalam kehidupan kita.
Dan benar kurasakan
ketika Allah menyentuh hatiku, Aku mencoba semakin mendekat pada-Nya, dan
Dakwah menjadi salah satu jalan yang kupilih untuk terus mendekat kepada
Allah...
Tahun 2012 saat aku pertama
kali masuk Rohis di SMA yang sekaligus menjadi pengalaman pertamaku bergabung
di Rohis. Kelas 10 saat pertama aku mengenakan seragam SMA lengkap dengan
khimarnya, menurutku dengan bergabung di Rohis, proses hijrahku akan istiqomah
dan berharap menjadi lebih baik. Tak terpikir sama sekali waktu itu tujuan
berdakwah, hanya sebatas membantu proses hijrahku saja. Tahun 2012 akhir
menjadi awal mengubah tujuanku di Rohis, setelah mendapat amanah untuk menghidupkan
rohis di kepengurusan yang baru. Pikirku saat itu, tujuan yang pertama kali ada
di benakku saat bergabung di Rohis waktu itu bukan kupikirkan sendiri apakah
tujuan itu tercapai atau tidak, tapi bagaimana teman-teman anggota Rohis yang lain
juga dapat mencapai tujuannya bergabung di Rohis. Memang saat SMA kami mungkin
tak terpikir banyak hal untuk proses hijrah yang lagi booming sekarang, bisa menjalankan program kajian meski belum
begitu rutin, program sosial, dan yang paling aku suka adalah ikatan antar
anggota di dalamnya. Entah kenapa sejak awal masuk Rohis aku merasa nyaman,
bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman rohis yang tak jauh dari mengingatkan
dalam kebaikan, belajar berorganisasi, dan tentu candaan khas anak SMA masih
ada. Hingga akhir kepengurusan, kunci penting dari pengalaman bersama Rohis di
SMA adalah aku mulai berani untuk menyampaikan sesuatu hal di depan orang
banyak, meski kebanyakan berbicara tentang organisasi tapi aku berusaha untuk
tak melupakan kalimat pengingat agar terus istiqomah berada di jalan kita
sekarang. Dan akhirnya sebagai konsekuensi aku pun harus melaksanakan apa yang
telah kusampaikan, bukan sekedar menjadi contoh, tetapi bentuk
pertanggungjawabanku kepada Allah tentang amanahku saat itu. Dan hal itulah
yang membentuk diriku di SMA, menjadi tamparan keras bagiku ketika aku
melanggar sendiri apa yang aku sampaikan pada teman-teman Rohis, menjadi acuan
semangat bagiku untuk menjadi anak Rohis yang sebenar benar anak Rohis yang
bisa menyampaikan dan melaksanakan kebaikan, belajar menentukan mana yang haq
dan yang batil sepengetahuanku saat itu. Hingga akhirnya aku pun bertekad untuk
terus menjadi anak rohis dan melanjutkan perjuangan yang membuatku nyaman di
bangku perkuliahan nanti, mencari lebih banyak ilmu agama agar aku bisa
menyampaikan kebaikan-kebaikan itu dengan lebih baik dan dengan ilmu.
Tahun
2014, awal pertemuanku dengan Rohis di kampus. Tak usah berpikir lagi,
kuputuskan dengan niat Lillaah untuk bergabung. Dan yang kurasakan lebih indah
dari yang kubayangkan sebelumnya, Allah mengabulkan doa-doaku untuk didekatkan
dengan orang-orang yang baik. Mbak-mbak
(senior) di Rohis waktu itu menyambut dengan senyum ramah dan “adem” di hati membuatku semakin nyaman
berada di dalamnya. Kegiatan di Rohis kampus aku rasa sangat lebih baik dari
yang pernah kualami sebelumnya, kegiatan kajian yang lebih banyak,
program-program rohis yang keren, dan mentoring/halaqah/liqo’ yang
memberi perubahan banyak dalam masa-masaku mengenal lebih dalam tentang Islam.
Ada dua amanah penting yang Allah dan kakak senior Rohis percayakan padaku saat
itu, kepengurusan yang kupegang ragu-ragu awalnya tapi bersama teman-teman yang
kupercaya adalah sahabat surga yang memang luar biasa sifat dan ghirahnya kami memulai dengan tekad
yang kuat membangun Rohis di kampus untuk semakin menebar manfaat. Saat itu
pula, aku diberi kesempatan untuk berdakwah dalam lingkaran kecil yang memang
dibentuk oleh Rohis kami. Kadang merasa tak pantas aku duduk diantara lingkaran itu dan berdiskusi
tentang Islam, tetapi suatu ketika mbak-mbak
senior di Rohis berpesan “Dek, yang lebih senior jadi panutan itu hukum alam.
Dan itulah yang melekat pada diri kalian sekarang, jadilah contoh yang baik,
sampaikan terus kebaikan, jangan lelah, meski adik-adikmu tak antusias, lakukan
terus, jalan dakwah itu tak mulus, kamu akan diuji dan akan ada yang
dikorbankan, waktumu, tenagamu, bahkan mungkin materi tapi Allah tahu apa yang
kamu lakukan, niatkan untuk ibadah. InsyaAllah hatimu akan selalu lapang dan tenang
berada di majelis itu.” Terimakasih mbak,
mas, mentor-mentor liqo’, akhawati fillaah,
dan adik-adik tercinta, bagiku kalian adalah saudara seiman dengan visi yang
sama berjuang dalam dakwah. Dari kalian pula semangat dakwah itu berkobar
hingga kini, semoga majelis-majelis itu juga kita bawa hingga di syurga nanti,
Barokallaahu fiikum.
Dan Allah yang Maha membolak-balikkan
hati setiap manusia. Tetapkanlah kami dalam keadaan Islam dan mencintai dakwah
dimanapun kami berada. Tak hentinya mengucap rasa syukur atas setiap kejadian dalam
hidup yang semua Allah sudah tuliskan di Lauhul
Mahfudz, pun begitu dengan kalian sahabatku, mungkin cerita kita mengenal
dakwah berbeda, tapi yang penting ingatlah tiap kita mengemban amanah untuk berdakwah.
Mulai sekarang bertekadlah untuk mengingatkan kebaikan pada orang lain,
meskipun sekali dalam sehari. Bukankah sekarang lebih banyak cara dan mudah
bagi kita untuk berdakwah? Melalui tulisan-tulisanmu, postingan bermanfaat
lewat sosmedmu, bahkan bisa sharing
artikel ataupun poster digital berisi pesan kebaikan. Hal-hal kebaikan yang
kita sebarkan tentu juga akan menjadi pengingat bagi kita untuk terus berbuat
kebaikan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bukankah itu yang
akan membuat hati kita menjadi tenang? Jika tak percaya maka cobalah, dan
buatlah kisahmu yang berharga tentang Allah, Dirimu, dan Dakwah.
Malang, Maret
2018
Lailatul Qomariyah
Elok Nurintani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar