Sabtu, 21 April 2018

Allah, Aku, dan Dakwah



Bismillaah..
Ah, dulu sempat aku berpikir bahwa dakwah itu kaku, maksudnya hanya sekedar seorang da’i berdiri diatas mimbar dan menyampaikan ceramah tentang kebaikan-kebaikan. Definisi dakwah yang kupikirkan diawal itu memang salah satu perwujudan dakwah, namun semakin lama aku mencoba memahaminya, apakah dakwah hanya sebatas itu?. Dakwah itu bermakna luas kawan. Menurutku poinnya adalah menyampaikan. Dan apakah yang disampaikan itu? Tentu kebaikan. Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Kalimat Allah yang indah menjelaskannya “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-‘Asr ayat 1-3) dan sebuah amanah indah baginda Rasulullaah “Ballighul anni walau aayah” sampaikanlah sesuatu dariku, walau hanya sepotong ayat. Ya, sampaikan, saling menasihati dalam kebaikan, dalam mengingat Allah itulah dasar dakwah. Tanpa harus berpredikat ustadz atau ustadzah, tanpa predikat lulusan pendidikan agama, ataupun seorang yang dianggap alim yang hanya bisa melaksanakan dakwah. Oh tentu tidak, persyaratan tersebut tidak tertulis dalam ayat Al-Qur’an dan hadist bukan? Setiap manusia adalah khalifah, Allah memberi amanah yang sama pada manusia untuk menjaga bumi Allah, untuk menebar kebaikan pada setiap makhluk-Nya. Dan salah satunya dengan dakwah, setiap manusia mempunyai kewajiban yang sama untuk menyampaikan kebaikan, untuk saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan dan bersabar.

Lalu, apakah dakwah itu susah?,
Sebenarnya mudah, hanya menyampaikan saja, kan. Tapi pun tak semudah itu, baginda Rasulullaah berkali-kali ditolak, dicaci maki, bahkan dibenci dalam misi mendakwahkan Islam, bahkan harus berdakwah secara diam-diam. Memang sekedar menyampaikan adalah misi pendakwah. Tapi bagaimana kebaikan-kebaikan yang disampaikan benar-benar bisa merasuk jiwanya dan menyentuh hatinya untuk semakin dekat dengan Allah.  Dan yang terpenting dari itu semua adalah kita berani menyampaikan kebaikan itu dan telah melaksanakan kebaikan-kebaikan itu pula dalam kehidupan kita.

Dan benar kurasakan ketika Allah menyentuh hatiku, Aku mencoba semakin mendekat pada-Nya, dan Dakwah menjadi salah satu jalan yang kupilih untuk terus mendekat kepada Allah...
Tahun 2012 saat aku pertama kali masuk Rohis di SMA yang sekaligus menjadi pengalaman pertamaku bergabung di Rohis. Kelas 10 saat pertama aku mengenakan seragam SMA lengkap dengan khimarnya, menurutku dengan bergabung di Rohis, proses hijrahku akan istiqomah dan berharap menjadi lebih baik. Tak terpikir sama sekali waktu itu tujuan berdakwah, hanya sebatas membantu proses hijrahku saja. Tahun 2012 akhir menjadi awal mengubah tujuanku di Rohis, setelah mendapat amanah untuk menghidupkan rohis di kepengurusan yang baru. Pikirku saat itu, tujuan yang pertama kali ada di benakku saat bergabung di Rohis waktu itu bukan kupikirkan sendiri apakah tujuan itu tercapai atau tidak, tapi bagaimana teman-teman anggota Rohis yang lain juga dapat mencapai tujuannya bergabung di Rohis. Memang saat SMA kami mungkin tak terpikir banyak hal untuk proses hijrah yang lagi booming sekarang, bisa menjalankan program kajian meski belum begitu rutin, program sosial, dan yang paling aku suka adalah ikatan antar anggota di dalamnya. Entah kenapa sejak awal masuk Rohis aku merasa nyaman, bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman rohis yang tak jauh dari mengingatkan dalam kebaikan, belajar berorganisasi, dan tentu candaan khas anak SMA masih ada. Hingga akhir kepengurusan, kunci penting dari pengalaman bersama Rohis di SMA adalah aku mulai berani untuk menyampaikan sesuatu hal di depan orang banyak, meski kebanyakan berbicara tentang organisasi tapi aku berusaha untuk tak melupakan kalimat pengingat agar terus istiqomah berada di jalan kita sekarang. Dan akhirnya sebagai konsekuensi aku pun harus melaksanakan apa yang telah kusampaikan, bukan sekedar menjadi contoh, tetapi bentuk pertanggungjawabanku kepada Allah tentang amanahku saat itu. Dan hal itulah yang membentuk diriku di SMA, menjadi tamparan keras bagiku ketika aku melanggar sendiri apa yang aku sampaikan pada teman-teman Rohis, menjadi acuan semangat bagiku untuk menjadi anak Rohis yang sebenar benar anak Rohis yang bisa menyampaikan dan melaksanakan kebaikan, belajar menentukan mana yang haq dan yang batil sepengetahuanku saat itu. Hingga akhirnya aku pun bertekad untuk terus menjadi anak rohis dan melanjutkan perjuangan yang membuatku nyaman di bangku perkuliahan nanti, mencari lebih banyak ilmu agama agar aku bisa menyampaikan kebaikan-kebaikan itu dengan lebih baik dan dengan ilmu.

Tahun 2014, awal pertemuanku dengan Rohis di kampus. Tak usah berpikir lagi, kuputuskan dengan niat Lillaah untuk bergabung. Dan yang kurasakan lebih indah dari yang kubayangkan sebelumnya, Allah mengabulkan doa-doaku untuk didekatkan dengan orang-orang yang baik. Mbak-mbak (senior) di Rohis waktu itu menyambut dengan senyum ramah dan “adem” di hati membuatku semakin nyaman berada di dalamnya. Kegiatan di Rohis kampus aku rasa sangat lebih baik dari yang pernah kualami sebelumnya, kegiatan kajian yang lebih banyak, program-program rohis yang keren, dan mentoring/halaqah/liqo’ yang memberi perubahan banyak dalam masa-masaku mengenal lebih dalam tentang Islam. Ada dua amanah penting yang Allah dan kakak senior Rohis percayakan padaku saat itu, kepengurusan yang kupegang ragu-ragu awalnya tapi bersama teman-teman yang kupercaya adalah sahabat surga yang memang luar biasa sifat dan ghirahnya kami memulai dengan tekad yang kuat membangun Rohis di kampus untuk semakin menebar manfaat. Saat itu pula, aku diberi kesempatan untuk berdakwah dalam lingkaran kecil yang memang dibentuk oleh Rohis kami. Kadang merasa tak pantas  aku duduk diantara lingkaran itu dan berdiskusi tentang Islam, tetapi suatu ketika mbak-mbak senior di Rohis berpesan “Dek, yang lebih senior jadi panutan itu hukum alam. Dan itulah yang melekat pada diri kalian sekarang, jadilah contoh yang baik, sampaikan terus kebaikan, jangan lelah, meski adik-adikmu tak antusias, lakukan terus, jalan dakwah itu tak mulus, kamu akan diuji dan akan ada yang dikorbankan, waktumu, tenagamu, bahkan mungkin materi tapi Allah tahu apa yang kamu lakukan, niatkan untuk ibadah. InsyaAllah hatimu akan selalu lapang dan tenang berada di majelis itu.” Terimakasih mbak, mas, mentor-mentor liqo’, akhawati fillaah, dan adik-adik tercinta, bagiku kalian adalah saudara seiman dengan visi yang sama berjuang dalam dakwah. Dari kalian pula semangat dakwah itu berkobar hingga kini, semoga majelis-majelis itu juga kita bawa hingga di syurga nanti, Barokallaahu fiikum.

Dan Allah yang Maha membolak-balikkan hati setiap manusia. Tetapkanlah kami dalam keadaan Islam dan mencintai dakwah dimanapun kami berada. Tak hentinya mengucap rasa syukur atas setiap kejadian dalam hidup yang semua Allah sudah tuliskan di Lauhul Mahfudz, pun begitu dengan kalian sahabatku, mungkin cerita kita mengenal dakwah berbeda, tapi yang penting ingatlah tiap kita mengemban amanah untuk berdakwah. Mulai sekarang bertekadlah untuk mengingatkan kebaikan pada orang lain, meskipun sekali dalam sehari. Bukankah sekarang lebih banyak cara dan mudah bagi kita untuk berdakwah? Melalui tulisan-tulisanmu, postingan bermanfaat lewat sosmedmu, bahkan bisa sharing artikel ataupun poster digital berisi pesan kebaikan. Hal-hal kebaikan yang kita sebarkan tentu juga akan menjadi pengingat bagi kita untuk terus berbuat kebaikan. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bukankah itu yang akan membuat hati kita menjadi tenang? Jika tak percaya maka cobalah, dan buatlah kisahmu yang berharga tentang Allah, Dirimu, dan Dakwah.

Malang, Maret 2018
Lailatul Qomariyah Elok Nurintani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar