Jumat, 12 Februari 2016

Ahlan Wa Sahlan Yaa Qalbu



Assalamu'alaikum...
Ahlan wa sahlan sahabat sahabati ?
Apa kabar kamu? Harimu? Hatimu? Ups
Lanjut baca coretanlayla yuuk.. 

 
Picture by : www.muslimahcorner.com

Kenapa judulnya kaya gitu lay, yap apa kabar hati begitu kalau sudah diterjemahkan. Pas banget laila nulis ini di asrama kamar sebelah pas lagi dengerin lagunya trilogi Cinta Positif yang judulnya “Pangeran Surga” jeng  jeng pake backsound segala kan jadinya. Sudah nonton trilogi Cinta Positif yang judulnya itu belum? Menginspirasi ukh, eh jadi promosi deh. Hehe, lanjut dulu deh
Bicara masalah hati terutama buat akhwat so complicated banget kan ukh, banyak kejadian ini itu, ikhwan yang mampir sana sini, ups. Sekali lagi konteks kita bukan menjurus ke yang negatif ya ukh, bukan menjurus ke virus pacaran enggak sama sekali. Di edisi kali ini laila bakalan menulis seputar cinta tepatnya kisah perjuangan menjaga kefitrahan cinta yang selama ini sebagian besar disalahgunakan menjadi cinta yang keruh dan bahkan kotor, sayang sekali bukan.
Cinta diciptakan oleh Allah dalam keadaan fitrah (suci). Apakah kita tega membuat ciptaanNya yang begitu indah menjadi keruh dan ternoda?. Jangan wahai ukhti akhi, Allah menciptakan segala sesuatunya baik dan suci tentu dengan tujuan yang baik pula. Setiap manusia diciptakan dengan anugrah cinta. Hablumminallah dan hablumminannaas, cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama manusia meliputi RasulNya, orangtua, guru, teman dan semuanya gak perlu laila sebutin satu-satu kan, hehe. Oh ya juga meliputi semua makhluk ciptaanNya ya, tumbuhan, hewan, lingkungan kita pun juga. Seneng banget deh kalau ada orang yang gak hanya peduli akan sesama manusia tapi juga cinta lingkungan, penggemar tanaman, ataupun penyayang binatang tentunya binatang yang  boleh dipelihara sesuai syariat. Menyayangi makhluk ciptaan Allah merupakan salah satu aktualisasi kecintaan kita kepada Allah SWT. Ini merupakan salah satu arti cinta juga kan ukh J
Bicara soal cinta, pasti di usia-usia remaja hingga remaja akhir kita terukir cerita bagaimana kita mengenal cinta dan bahkan memahami cinta. Memahami cinta kepada Sang Pencipta, RasulNya dan kedua orangtua kita. Atau bahkan juga kita sudah mengenal cinta yang mungkin terjadi dengan para ikhwan. Mulai menjurus ni ceritanya, hehe
Gak ada yang salah kok dengan cinta kepada lawan jenis. Eits, tapi patut kita telaah lagi apa cinta itu asalnya dari Sang Maha Cinta atau dari syaitonirrojiim, wah susah kan dibedakan. Sekali lagi cinta itu fitrah, cinta itu suci, jika cinta benar-benar dari Sang Maha Cinta tentulah akhirnya adalah suci bukan maksiat sana-sini.  Apa masih perlu dipertanyakan lagi cinta yang diwujudkan dengan gandengan berdua dengan bukan mahrom, jalan-jalan berdua, hangout berdua, makan berdua bahkan sepiring berdua, pokoknya yang berdua-dua (khalwat) dengan yang bukan mahrom adalah cinta karena Allah?. Pikir lagi deh bukan karena Allah jadinya, tapi karena bisikan syaitan yang telah membutakan cinta yang suci itu menjadi ternoda dengan maksiat bahkan itu juga dikatakan mendekati zina, wih ngeri kan. Padahal Allah sering mengingatkan kita kan dalam ayat indahnya di Al-Qur’an, ayo buka lagi Al-Qur’annya eh jangan hanya dibuka baca juga deh pasti bakalan sering menemukan kalimat “Laa Taqrobuzzinaa” artinya “ Janganlah sekali-kali kamu mendekati zina”. Allah sudah mengingatkan kita, mengapa masih banyak dari kita mengabaikan, mengabaikan Sang Pencipta, wah ini parah, Sang Pencipta saja diabaikan masih aja yakin dengan pemuda yang begini, bagaimana nantinya akan lebih mengabaikan ciptaanNya yang lain, perlu kita renungi.
Zina sendiri banyak macamnya bukan hanya satu arti zina yang mungkin sebagian besar kita tahu. Zina mata dengan memandangi yang tak seharusnya kita pandang misal memandang lawan jenis dengan mempunyai perasaan atau kekaguman tertentu di hati kita, zina telinga dengan mendengar perkataan yang tidak baik, mendengar gosip dan sebagainya, zina mulut dengan berkata tidak pantas atau membicarakan keburukan orang lain atau mengagumi sosok lawan jenis dengan menceritakannya ini itu kepada teman kita, zina kedua kaki dengan pergi jalan-jalan berdua, zina tangan dengan saling berpegangan bahkan zina hati, naudzubillaah.  
                Lalu apa kabar dengan hati kita, hati ini. Pernah sudah pasti disinggahi sang lebah. Tapi apakah kita membiarkannya mentah-mentah, jangan wahai ukhti, pagari hati kita dengan hiasan bunga langka yang hanya dimiliki muslimah yang sholehah yang tak semua lebah dapat menghampirinya, menghisap sarinya dan membawanya pergi begitu saja. Jadilah bunga abadi yang selalu setia menunggu sang lebah, satu-satunya lebah yang dengan sopan akan melewati pagarmu dengan izinNya, tidak hanya akan hinggap tapi akan setia bersamamu hingga dengannya bunga itu akan layu dan mati.
                Hati ini pasti rindu akan dia yang mampu membimbing hati agar selalu fitrah ketika kembali bersama kepada Sang Rabb nanti. Hati ini pasti akan menunggu dia yang tak hanya menyatakan perasaan dan niatnya padamu ukhti, tapi terlebih dahulu kepada Sang Pencipta lewat lantunan doanya dan tentunya kepada kedua orangtuamu yang tak lain cinta keduamu setelah Allah SWT, lalu biarkan dan izinkanlah dia menjadi cintamu yang ketiga.
                Cinta itu fitrah, biarkan dia datang kepadamu. Sapalah dan sambutlah dengan senang hati namun janganlah terlena, tunggulah disaat yang tepat. Semai, tanam dan tumbuhkan cintamu dengan selalu mengikhlaskan semua kepada Allah hingga nanti kau akan memetik hasil indahnya di waktu panen indah yang telah Allah gariskan. Meski kau pun memiliki perasaan yang sama ukhti, jangan biarkan perasaan cinta yang suci itu dijadikan alasan untuk membawamu dan dia ke lubang dosa. Jika kau mencintainya karena Allah, dia atau kau tak akan membiarkan salah satunya terjerumus ke dalam dosa. Lindungi dia, lindungi hatimu agar selalu berada di jalur yang tepat, jalur yang kalian harapkan akan membawa cinta kalian menuju pintu ibadah hingga membawa kalian bertemu Sang Maha Cinta di surga.
                Sabarlah ukhti, sabarlah akhi. Memang berat, tapi disinilah Allah akan melihat seberapa besar cinta manusia kepada Penciptanya akankah mampu dikalahkan oleh cinta kepada makhluk-Nya?. Yakinlah, Allah telah menyiapkan hati yang baik untuk hati lainnya yang baik pula dan begitupun sebaliknya seperti dalam penggalan ayat suci Al-Qur’an dalam surat An-Nur ayat 26 “Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). So, tambah yakin kan? Maka dari itu yuk bersihkan hati kita, baikkan hati kita, dan persiapkan hati kita dengan selalu memantaskan diri dengan niat karena Allah Ta’ala, ingatlah pula untuk mencintai Allah melebihi cintamu pada makhlukNya. Masih terngiang kisah Zulaikha dan Yusuf A.S, dimana semakin Zulaikha mengejar cinta Yusuf, maka Allah jauhkan Yusuf darinya. Tetapi, semakin Zulaikha mengejar cinta Allah, Allah dekatkan Yusuf untuknya. Masyaallah..
                Sabarlah hati, kuatkan pagar taqwamu, gembok hatimu dengan tawakkal, bentengi dirimu dengan cinta kepada Allah SWT. Yakinlah, dia yang tercipta untukmu suatu saat akan datang dengan izin dari pemilikmu, dengan kunci ketaqwaannya yang siap membuka gembok hatimu atas izin Allah SWT dan restu kedua orangtuamu, dan jadikanlah ia pemilik gembok dan kunci itu hingga mengembalikannya kepada Sang Pemilik di surgaNya nanti. Maka dari itu hati, tetaplah baik-baik saja karena Allah selalu bersamamu ^ Ahlan waa sahlan yaa Qalbu : Ana bikhoir, Insyallah ^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar