Rabu, 19 Oktober 2016

Metamorfosa Impian



Alhamdulillah...
Satu kalimat yang indah mengawali hari ini, sangat bersyukur masih diberi nikmat iman dan sehat luar biasa. Semua harus diyukuri, apapun itu karena semua sudah Allah goreskan dengan indah setiap apapun yang akan terjadi pada setiap hamba-Nya. Jangan khawatir, Allah pasti memberikan yang terbaik apapun itu tampaknya, meski terkadang yang tampak dimata kita mungkin dianggap buruk atau musibah. Ingatlah penggalan kalimat dalam Al-Qur’an “Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. Semua yang terjadi pada kita telah Allah setting sedemikian rupa dan akan ada hikmah dibaliknya bagi kita umatNya yang benar-benar mampu memahami kuasaNya.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita masing-masing hari ini ke depan ataupun besok dan seterusnya. Tomorrow is mystery, yap misteri Ilahi. Eh jadi kaya judul sinetron, hehe. Memang semua yang akan terjadi kita tidak tahu, kita hanya perlu mempersiapkan diri dan mampu menghandle diri bagaimana cara kita menerima dan menjalani hari kita dengan selalu berhusnudzan kepada Allah SWT.
Bicara tentang besok ataupun yang akan terjadi atau istilahnya masa  depan pasti erat kaitannya dengan cita-cita, keinginan, dan harapan. Semua manusia di dunia pasti punya keinginan dan harapan yang indah. Cita-cita indah yang ingin diraih di masa depan pastilah dimiliki. Namun apa yang terjadi selama pengalaman hidup kita hingga belasan bahkan menuju puluhan tahun ini, tidak semua yang kita inginkan berjalan sesuai harapan kita, tidak semua keinginan kita tercapai, begitupun dengan cita-cita. Ya, hidup ini tidak datar, bahasa di iklan sih Life Is Never Flat, hehe. Tapi emang bener, perjalanan hidup tidaklah selalu mulus kawan, ada saja cobaan yang datang dalam hidup kita bahkan hingga merenggut harapan dan cita-cita. Bayangkan jika semua harapan dan keinginan di dunia terwujud, pasti udah gak inget yang namanya surga lagi karena semua udah didapet di dunia, bener gak?
Jadi teringat cita-cita yang dimiliki si tokoh “Bulan “ yang begitu kuat dulunya, tapi apa dengan cita-cita diiringi keinginan kuat dan usaha sekuat yang Bulan mampu itu tercapai? Tentunya iya, iya salahnya alias tidak. Sedihkah? Pastinya iya bahkan sangat, hehe dulunya. Merasa buntu harus melakukan apa lagi atau bisakah Bulan memindahkan cita-cita dan keinginannya? Rasanya sangat tidak bisa, itupun dulunya.
Itulah yang seorang gadis sebut saja Bulan  rasakan sekarang, cita-cita menjadi tenaga kesehatan berjas putih itulah yang sangat Bulan inginkan. Menurut Bulan itu cita-cita yang mulia, membantu banyak orang dan mengabdi untuk masyarakat menjadi penguat keinginan Bulan mengapa harus memiliki cita-cita seperti itu. Lalu diam, tentu tidak bisa. Banyak usaha yang telah Bulan lakukan, bahkan udah mulai nyicil dari awal SMA dengan cita-cita yang sama. Berusaha melakukan yang terbaik di setiap kesempatan, berdoa tak henti dan tentunya memohon restu kedua orangtua dan guru, rasanya semua orang sudah tahu apa yang si Bulan inginkan. Penuh rasa yakin memang, guru-guru pun mendukung dengan begitu yakinnya. Tapi apa yang terjadi? Si Bulan gagal, gagal dan gagal. Sedih? Pasti sangat sedih, rasanya ingin menutup diri saja dari dunia. Maafkan sedikit alay, itu dulunya, hehe.
Kembali ke point “itu dulunya?” lalu apa yang terjadi pada si Bulan sekarang? Masih mengunci diri sambil menangis di dalam kamar kah? Stress? Susah move on?atau bahkan Gila? Jawabannya ya, ya itu salah. Sangat salah.
“Hey, guys hidupmu cuma sekali, dunia itu luas, kamu satu, dunia itu luas, sebegitu penuhkah dunia hingga gak sanggup menampungmu,tak mampu menjadi lahan menyambut impianmu? Jangan berpikir sempit, Allah SWT menganugrahkan kita otak dan berdinamo spesial yakni “akal”. So, gunakanlah itu untuk meneruskan langkahmu kedepan dengan diiringi doa dan tawakkal pada Allah. “
Salah satu kalimat itulah yang menjadi cambuknya dan renungan untuknya untuk memulai langkah baru. Semua berubah ketika kasih sayang Allah dan kedua orangtuanya menjadi sinar terang dalam pencarian jalannya. Dengan restu tulus orangtua, Si Bulan mencoba lagi dengan penuh keikhlasan dan niat yang murni dengan satu keyakinannya “menjadi pengabdi masyarakat, dan bermanfaat bagi orang lain bahkan tanah kelahirannya sendiri”. Keyakinan itulah yang membawa si Bulan tetap memilih dunia kesehatan yang menurutnya adalah panggilan hatinya yang tak bisa ia pungkiri, bukan dunia jas putih itu lagi, namun dunia baru yang sebenarnya sudah ia tahu sejak SMA.
Dengan langkahnya ia menyusuri jalan itu dengan dukungan penuh dari kedua orangtuanya, banyak tantangan awalnya dengan menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya, kesasar tempat tes, bahkan harus bolak-balik untuk serangkaian tes lainnya yakni tes kesehatan fisik dan psikis. Rencana Allah memang indah, meski harus menjalani ini-itu, Bulan mampu melewati semua dan akhirnya ia resmi menjadi mahasiswa salah satu Politeknik Kesehatan Negeri dibawah Kementerian Kesehatan RI itu. Ada rasa bangga tersendiri yang ia rasakan, mengingat dari jalur tes dengan mencapai ribuan peserta hingga rangkaian tes akhir ia mampu melewatinya dengan izin Allah. Ia berharap inilah jalan dari Allah,  inilah langkah awal baginya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain segera.
Masyallah walhamdulillah itulah kalimat indah yang sering terucap haru oleh Bulan saat ini. Sedikit demi sedikit ia mulai menemukan kebahagian dan jati diri cita-citanya disini. Bertemu dengan teman-teman yang begitu spesial, mengenal dosen hingga begitu dekatnya, dipercaya banyak orang untuk mengemban amanah di beberapa organisasi hingga menjadi pengurus organisasi rasanya merupakan hal yang luar biasa. Mulai mencoba mengukir prestasi walau sedikit demi sedikit di kampus tercinta dan melihat kedua orangtua penuh syukur haru dan bangga adalah sedikit demi sedikit impian yang mulai Bulan dapatkan. Tentang mimpi pengabdian dan bermanfaat bagi orang banyak itu, disinilah Bulan mulai dapatkan pula sekarang, diawali dengan menjadi panitia pengabdian masyarakat untuk kampus di jurusannya, diberi kesempatan bertemu pasien dan menimba ilmu di rumah sakit, mendapat pengalaman di posyandu, dan membantu pemkot rantauannya dalam pelaksanaan program keluarga sadar gizi dengan menjadi bagian pembimbing bersama dosen, mengenal banyak orang, berbagi ilmu dan melihat tawa riang para balita merupakan anugrah dan pengalaman hidup luar biasa yang ia rasakan. Mungkinkah ia dapatkan jika ia tidak disini sekarang? Tentu jawabannya tidak. Rasanya sedikit banyak impian yang dulu ingin Bulan capai, sedikit demi sedikit ia mencapainya disini. Masyaallah, betapa indah rencanaMu yaa Rabb
Mulai detik kehidupannya kini pun, dengan disertai ikhtiar dan tawakkal kepada Allah, Bulan terus berharap bisa melanjutkan perjuangannya hingga begitu banyak menebar manfaat untuk orang lain terlebih untuk tanah kelahirannya nanti. Tak ada lagi bayang-bayang cita-cita dulu yang begitu kuat dipegangnya, tidak lagi. Sebaik-baik rencana manusia, Allah SWT lah yang Maha Tahu yang terbaik untuk umatNya.  Kini tengoklah ke depan, hey dunia itu  luas, temukan dirimu dimana tempat kau akan meraih puncak impianmu yang sebenarnya.
Jangan pantang menyerah, gagal coba lagi, gagal coba lagi, Allah tidak akan memberi cobaan melampaui batas hamba-Nya, ingat Allah punya rencana terbaik dan terindah yang akan didapat disaat dan waktu yang tepat. Jangan jadikan cobaan dan rintangan di hidupmu adalah beban, beban yang berat sekali lagi jangan. Jadikan ia tantangan yang harus kamu lewati untuk naik level menuju dirimu yang tangguh, lebih baik dan pastinya extraordinary. Jadilah dirimu sendiri, setiap orang telah Allah anugrahkan kemampuan masing-masing, kita masing-masing memiliki keistimewaan sendiri yang tidak dimiliki orang lain. Yakinlah, bersabarlah, berjuanglah, dan tawakkallah kepada Allah SWT.
Tetaplah tersenyum sahabat dimanapun kau memulai perjuangan sekarang untuk sukses dunia dan akhiratmu di masa datang, selain senyummu itu ibadah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar