Alhamdulillah...
Satu kalimat yang indah mengawali
hari ini, sangat bersyukur masih diberi nikmat iman dan sehat luar biasa. Semua
harus diyukuri, apapun itu karena semua sudah Allah goreskan dengan indah
setiap apapun yang akan terjadi pada setiap hamba-Nya. Jangan khawatir, Allah
pasti memberikan yang terbaik apapun itu tampaknya, meski terkadang yang tampak
dimata kita mungkin dianggap buruk atau musibah. Ingatlah penggalan kalimat
dalam Al-Qur’an “Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. Semua yang
terjadi pada kita telah Allah setting
sedemikian rupa dan akan ada hikmah dibaliknya bagi kita umatNya yang
benar-benar mampu memahami kuasaNya.
Kita tidak pernah tahu apa yang akan
terjadi pada diri kita masing-masing hari ini ke depan ataupun besok dan
seterusnya. Tomorrow is mystery, yap
misteri Ilahi. Eh jadi kaya judul sinetron, hehe. Memang semua yang akan
terjadi kita tidak tahu, kita hanya perlu mempersiapkan diri dan mampu menghandle diri bagaimana cara kita menerima
dan menjalani hari kita dengan selalu berhusnudzan kepada Allah SWT.
Bicara tentang besok ataupun yang
akan terjadi atau istilahnya masa depan
pasti erat kaitannya dengan cita-cita, keinginan, dan harapan. Semua manusia di
dunia pasti punya keinginan dan harapan yang indah. Cita-cita indah yang ingin
diraih di masa depan pastilah dimiliki. Namun apa yang terjadi selama
pengalaman hidup kita hingga belasan bahkan menuju puluhan tahun ini, tidak
semua yang kita inginkan berjalan sesuai harapan kita, tidak semua keinginan
kita tercapai, begitupun dengan cita-cita. Ya, hidup ini tidak datar, bahasa di
iklan sih Life Is Never Flat, hehe.
Tapi emang bener, perjalanan hidup tidaklah selalu mulus kawan, ada saja cobaan
yang datang dalam hidup kita bahkan hingga merenggut harapan dan cita-cita.
Bayangkan jika semua harapan dan keinginan di dunia terwujud, pasti udah gak
inget yang namanya surga lagi karena semua udah didapet di dunia, bener gak?
Jadi teringat cita-cita yang dimiliki si tokoh “Bulan “ yang begitu
kuat dulunya, tapi apa dengan cita-cita diiringi keinginan kuat dan usaha
sekuat yang Bulan mampu itu tercapai? Tentunya iya, iya salahnya alias tidak. Sedihkah? Pastinya iya bahkan sangat, hehe
dulunya. Merasa buntu harus melakukan apa lagi atau bisakah Bulan memindahkan
cita-cita dan keinginannya? Rasanya sangat tidak bisa, itupun dulunya.
Itulah yang seorang gadis sebut saja Bulan rasakan sekarang, cita-cita menjadi tenaga
kesehatan berjas putih itulah yang sangat Bulan inginkan. Menurut Bulan itu
cita-cita yang mulia, membantu banyak orang dan mengabdi untuk masyarakat
menjadi penguat keinginan Bulan mengapa harus memiliki cita-cita seperti itu. Lalu
diam, tentu tidak bisa. Banyak usaha yang telah Bulan lakukan, bahkan udah
mulai nyicil dari awal SMA dengan cita-cita yang sama. Berusaha melakukan yang
terbaik di setiap kesempatan, berdoa tak henti dan tentunya memohon restu kedua
orangtua dan guru, rasanya semua orang sudah tahu apa yang si Bulan inginkan. Penuh
rasa yakin memang, guru-guru pun mendukung dengan begitu yakinnya. Tapi apa
yang terjadi? Si Bulan gagal, gagal dan gagal. Sedih? Pasti sangat sedih,
rasanya ingin menutup diri saja dari dunia. Maafkan sedikit alay, itu dulunya,
hehe.
Kembali ke point “itu dulunya?” lalu apa yang terjadi pada si Bulan sekarang?
Masih mengunci diri sambil menangis di dalam kamar kah? Stress? Susah move on?atau
bahkan Gila? Jawabannya ya, ya itu salah. Sangat salah.
“Hey, guys hidupmu cuma sekali, dunia itu luas, kamu satu, dunia itu
luas, sebegitu penuhkah dunia hingga gak sanggup menampungmu,tak mampu menjadi
lahan menyambut impianmu? Jangan berpikir sempit, Allah SWT menganugrahkan kita
otak dan berdinamo spesial yakni “akal”. So, gunakanlah itu untuk meneruskan
langkahmu kedepan dengan diiringi doa dan tawakkal pada Allah. “
Salah satu kalimat itulah yang menjadi cambuknya dan renungan untuknya
untuk memulai langkah baru. Semua berubah ketika kasih sayang Allah dan kedua
orangtuanya menjadi sinar terang dalam pencarian jalannya. Dengan restu tulus
orangtua, Si Bulan mencoba lagi dengan penuh keikhlasan dan niat yang murni
dengan satu keyakinannya “menjadi pengabdi masyarakat, dan bermanfaat bagi
orang lain bahkan tanah kelahirannya sendiri”. Keyakinan itulah yang membawa si
Bulan tetap memilih dunia kesehatan yang menurutnya adalah panggilan hatinya
yang tak bisa ia pungkiri, bukan dunia jas putih itu lagi, namun dunia baru
yang sebenarnya sudah ia tahu sejak SMA.
Dengan langkahnya ia menyusuri jalan itu dengan dukungan penuh dari
kedua orangtuanya, banyak tantangan awalnya dengan menempuh perjalanan yang
lumayan jauh dari tempat tinggalnya, kesasar tempat tes, bahkan harus
bolak-balik untuk serangkaian tes lainnya yakni tes kesehatan fisik dan psikis.
Rencana Allah memang indah, meski harus menjalani ini-itu, Bulan mampu melewati
semua dan akhirnya ia resmi menjadi mahasiswa salah satu Politeknik Kesehatan
Negeri dibawah Kementerian Kesehatan RI itu. Ada rasa bangga tersendiri yang ia
rasakan, mengingat dari jalur tes dengan mencapai ribuan peserta hingga
rangkaian tes akhir ia mampu melewatinya dengan izin Allah. Ia berharap inilah
jalan dari Allah, inilah langkah awal
baginya untuk menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain segera.
Masyallah walhamdulillah itulah kalimat indah yang sering terucap haru
oleh Bulan saat ini. Sedikit demi sedikit ia mulai menemukan kebahagian dan
jati diri cita-citanya disini. Bertemu dengan teman-teman yang begitu spesial,
mengenal dosen hingga begitu dekatnya, dipercaya banyak orang untuk mengemban
amanah di beberapa organisasi hingga menjadi pengurus organisasi rasanya
merupakan hal yang luar biasa. Mulai mencoba mengukir prestasi walau sedikit
demi sedikit di kampus tercinta dan melihat kedua orangtua penuh syukur haru
dan bangga adalah sedikit demi sedikit impian yang mulai Bulan dapatkan.
Tentang mimpi pengabdian dan bermanfaat bagi orang banyak itu, disinilah Bulan mulai
dapatkan pula sekarang, diawali dengan menjadi panitia pengabdian masyarakat
untuk kampus di jurusannya, diberi kesempatan bertemu pasien dan menimba ilmu di
rumah sakit, mendapat pengalaman di posyandu, dan membantu pemkot rantauannya
dalam pelaksanaan program keluarga sadar gizi dengan menjadi bagian pembimbing
bersama dosen, mengenal banyak orang, berbagi ilmu dan melihat tawa riang para
balita merupakan anugrah dan pengalaman hidup luar biasa yang ia rasakan.
Mungkinkah ia dapatkan jika ia tidak disini sekarang? Tentu jawabannya tidak. Rasanya
sedikit banyak impian yang dulu ingin Bulan capai, sedikit demi sedikit ia
mencapainya disini. Masyaallah, betapa indah rencanaMu yaa Rabb
Mulai detik kehidupannya kini pun, dengan disertai ikhtiar dan tawakkal
kepada Allah, Bulan terus berharap bisa melanjutkan perjuangannya hingga begitu
banyak menebar manfaat untuk orang lain terlebih untuk tanah kelahirannya
nanti. Tak ada lagi bayang-bayang cita-cita dulu yang begitu kuat dipegangnya,
tidak lagi. Sebaik-baik rencana manusia, Allah SWT lah yang Maha Tahu yang
terbaik untuk umatNya. Kini tengoklah ke
depan, hey dunia itu luas, temukan dirimu
dimana tempat kau akan meraih puncak impianmu yang sebenarnya.
Jangan pantang menyerah, gagal coba lagi, gagal coba lagi, Allah tidak
akan memberi cobaan melampaui batas hamba-Nya, ingat Allah punya rencana
terbaik dan terindah yang akan didapat disaat dan waktu yang tepat. Jangan jadikan
cobaan dan rintangan di hidupmu adalah beban, beban yang berat sekali lagi
jangan. Jadikan ia tantangan yang harus kamu lewati untuk naik level menuju
dirimu yang tangguh, lebih baik dan pastinya extraordinary. Jadilah dirimu sendiri, setiap orang telah Allah
anugrahkan kemampuan masing-masing, kita masing-masing memiliki keistimewaan
sendiri yang tidak dimiliki orang lain. Yakinlah, bersabarlah, berjuanglah, dan
tawakkallah kepada Allah SWT.
Tetaplah tersenyum sahabat dimanapun kau memulai perjuangan sekarang
untuk sukses dunia dan akhiratmu di masa datang, selain senyummu itu ibadah :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar