Assalamu’alaikum
Bagaimana kabar
hari ini ikhwah?
Rasanya laila
sudah lama tidak membua coretan-coretan ini lagi, salah satu alasannya adalah seiring
bertambahnya tingkat atau level sekolah (eh, kuliah yang katanya temen-temen
sih sekolah) semakin ada saja apapun yang harus dipikul. Yap bagaikan pohon
yang semakin tinggi semakin mudah angin menggoyahkan intinya semakin banyak
tantangan. Tapi apapun yang terjadi life
must go on kan, hadapi karena yakin Allah sudah menentukan semuanya dibalik
setiap usaha yang kita lakukan.
So, Alhamdulillah
karena lagi musim liburan gak salah kan kalo
diisi kegiatan positif dengan coretan ini lagi,yuk buka tulisan kali ini
dengan cerita seputar dunia merah jambu lah ya, yap seringnya omongin beginian
soalnya ini penting banget buat kita terutama muslimah yang kaya jadi musiman
gitu di usia rawan. Hehe
Kita mulai
dengan pentingnya membatasi pergaulan dengan lawan jenis, yap pergaulan kita
sebagai akhwat dengan seorang ikhwan. Melihat fenomena sekarang, rasanya sudah
hampir tidak ada batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, contohnya saja
pacaran. Pacaran bukan hal yang tabu lagi di masyarakat bahkan menurut para
orangtua, ada yang bilang kalo gak ada pacar gak laku, kalo gak ada pacar
kuper, mainnya kurang jauh, mainnya kurang malem, dll. Seakan sebagian besar masyarakat
sudah terbiasa bahkan setuju dengan pacaran.
Masih adakah
kaum Adam, baik ikhwan maupun akhwat yang menjaga batasan-batasan itu. Oh
jangan salah, masih sangat sangat banyak umat Nabi Muhammad yang mencintai
Allah, mencintai Rasulullah, mencintai Agamanya. Lihatlah sekitar kita, masih
banyak juga yang memegang teguh syariah, meski banyak tantangan dan godaan dari
berbagai sudut di era globalisasi ini, mereka tetap berusaha berpegang teguh,
belajar dan terus belajar meski banyak hal yang harus dikorbankan dan
diikhlaskan demi menegakkan syariat agama.
Sekarang ada hal
yang selalu menjadi pertanyaan yang selalu berputar di hati, bagaimana jika
terlanjur menyayangi seseorang?
Ada sebuah cerita
yang menarik untuk menjawab pertanyaan itu dan kita ambil pelajaran, khususnya
bagi saya sendiri. Mungkin ini bagian dari pengalaman kalian?
Siapkah kita
jika harus meninggalkan orang yang kita sayangi, yap orang yang tidak lama memang
mengisi hati. Memang hati seorang akhwat rasanya mudah rapuh, mudah tertaut,
tapi itulah fitrah bukan. Awalnya bukan apa-apa, dia siapa kita pun siapa,
sampai akhirnya sang ikhwan mengatakan bahwa sudah cukup lama menaruh hati, wah
bahkan mungkin kita tidak pernah merasa terjadi apa-apa sebelumnya. Si Ikhwan
yang seorang mahasantri pasti tahu betul bagaimana memanajemen perasaannya,
memang bisa, nyatanya si ikhwan tak pernah mengajak menuju lembah pacaran. Tapi
apa yang akhirnya lakukan, mengobrol yap chatting lewat media sosial.
Dengan kegiatan
ini mungkin awalnya si akhwat senang, bahagia, tapi dalam hati selalu berketuk
ketuk ragu “ini salah, hal yang dilakukan ini salah”. Rasanya hati selalu
berteriak ingin menghentikan ini semua, tapi hati sudah tertaut terlebih dahulu
dengan virus merah jambu. Semakin lama, si ikhwan mulai mengungkapkan
perasaannya, senang tapi malah terasa aneh dan khawatir bahwa hal inilah yang
mempermudah setan masuk lewat celah itu. Iya kalau setan yang lewat satu, kalo
keroyokan? Hehe
Tapi bagaimana
mungkin kita bisa tanpa kita berusaha mencoba, dengan berat hati si akhwat
memutuskan untuk membicarakan mengenai apa yang selama ini mereka lakukan dan
mencoba untuk menghentikannya bukan tanpa tujuan apa-apa, tapi karena rasa
sayang itu bukan berarti harus diumbar sebelum waktunya tiba, justru dengan hal
inilah untuk menjaga perasaan yang ada. Meski berat, sangat berat, mencoba
tersenyum meski sebenarnya menangis.
Dengan tarikan
nafas panjang, kesepakatan itu tercapai. Tidak ada lagi saling mengabari dan
menghubungi, tidak ada lagi chatting
yang membuat berat untuk saling melepaskan. Lepaskanlah sesuatu karena Allah,
pasti Allah akan memberikan yang lebih baik, yang terbaik J
Cobalah sejenak
kita semua renungkan, banyak hal positif yang sebenarnya bisa kita lakukan
daripada sekedar berpacaran, mari kita pikirkan apa daya kita yang kini masih
mengusap kaca berkabut untuk menatap masa depan, apa daya kita yang masih
banyak kekurangan ilmu, apa daya kita yang masih terus berusaha menggapai
harapan-harapan mulia untuk kedua orangtua kita, apa daya kita yang masih terus
berusaha menyempurnakan masa depan. Itulah PR kita,
Namun memang
semua akhwat di dunia ini tidak memungkiri hatinya berharap bahwa suatu saat
sang ikhwan pujaannya akan datang, akan kembali suatu saat nanti, akan datang
dengan segenap kesiapan lahir dan batin mengetuk kembali pintu hati, mengetuk
pintu rumah pula dan menghadap kedua orangtua karena Allah untuk sang akhwat.
Sekarang persiapkanlah diri kita, dirimu dan diriku hingga waktu itu tiba.
Dengan harapan semakin bergulirnya waktu, hati tidak berubah, hati semakin
yakin dan kokoh, hingga waktu itu tiba dan saling bertatap seraya saling
mengucap “Ana, uhibbuka fillah (Aku mencintaimu karena Allah)” dan disaat
itulah yang akan disebut Indah pada Waktunya. Manusia hanya bisa berencana,
Allah lah yang menentukan, Wallaahu’alam..
Bondowoso,
Ahad, 10 Juli
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar