Rabu, 19 Oktober 2016

Bersabarlah Hati





Assalamu’alaikum
Bagaimana kabar hari ini ikhwah?
        Rasanya laila sudah lama tidak membua coretan-coretan ini lagi, salah satu alasannya adalah seiring bertambahnya tingkat atau level sekolah (eh, kuliah yang katanya temen-temen sih sekolah) semakin ada saja apapun yang harus dipikul. Yap bagaikan pohon yang semakin tinggi semakin mudah angin menggoyahkan intinya semakin banyak tantangan. Tapi apapun yang terjadi life must go on kan, hadapi karena yakin Allah sudah menentukan semuanya dibalik setiap usaha yang kita lakukan.
        So, Alhamdulillah karena lagi musim liburan gak salah kan kalo  diisi kegiatan positif dengan coretan ini lagi,yuk buka tulisan kali ini dengan cerita seputar dunia merah jambu lah ya, yap seringnya omongin beginian soalnya ini penting banget buat kita terutama muslimah yang kaya jadi musiman gitu di usia rawan. Hehe
         Kita mulai dengan pentingnya membatasi pergaulan dengan lawan jenis, yap pergaulan kita sebagai akhwat dengan seorang ikhwan. Melihat fenomena sekarang, rasanya sudah hampir tidak ada batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan, contohnya saja pacaran. Pacaran bukan hal yang tabu lagi di masyarakat bahkan menurut para orangtua, ada yang bilang kalo gak ada pacar gak laku, kalo gak ada pacar kuper, mainnya kurang jauh, mainnya kurang malem, dll. Seakan sebagian besar masyarakat sudah terbiasa bahkan setuju dengan pacaran.
         Masih adakah kaum Adam, baik ikhwan maupun akhwat yang menjaga batasan-batasan itu. Oh jangan salah, masih sangat sangat banyak umat Nabi Muhammad yang mencintai Allah, mencintai Rasulullah, mencintai Agamanya. Lihatlah sekitar kita, masih banyak juga yang memegang teguh syariah, meski banyak tantangan dan godaan dari berbagai sudut di era globalisasi ini, mereka tetap berusaha berpegang teguh, belajar dan terus belajar meski banyak hal yang harus dikorbankan dan diikhlaskan demi menegakkan syariat agama.
Sekarang ada hal yang selalu menjadi pertanyaan yang selalu berputar di hati, bagaimana jika terlanjur menyayangi seseorang?
Ada sebuah cerita yang menarik untuk menjawab pertanyaan itu dan kita ambil pelajaran, khususnya bagi saya sendiri. Mungkin ini bagian dari pengalaman kalian?
         Siapkah kita jika harus meninggalkan orang yang kita sayangi, yap orang yang tidak lama memang mengisi hati. Memang hati seorang akhwat rasanya mudah rapuh, mudah tertaut, tapi itulah fitrah bukan. Awalnya bukan apa-apa, dia siapa kita pun siapa, sampai akhirnya sang ikhwan mengatakan bahwa sudah cukup lama menaruh hati, wah bahkan mungkin kita tidak pernah merasa terjadi apa-apa sebelumnya. Si Ikhwan yang seorang mahasantri pasti tahu betul bagaimana memanajemen perasaannya, memang bisa, nyatanya si ikhwan tak pernah mengajak menuju lembah pacaran. Tapi apa yang akhirnya lakukan, mengobrol yap chatting lewat media sosial.
         Dengan kegiatan ini mungkin awalnya si akhwat senang, bahagia, tapi dalam hati selalu berketuk ketuk ragu “ini salah, hal yang dilakukan ini salah”. Rasanya hati selalu berteriak ingin menghentikan ini semua, tapi hati sudah tertaut terlebih dahulu dengan virus merah jambu. Semakin lama, si ikhwan mulai mengungkapkan perasaannya, senang tapi malah terasa aneh dan khawatir bahwa hal inilah yang mempermudah setan masuk lewat celah itu. Iya kalau setan yang lewat satu, kalo keroyokan? Hehe
          Tapi bagaimana mungkin kita bisa tanpa kita berusaha mencoba, dengan berat hati si akhwat memutuskan untuk membicarakan mengenai apa yang selama ini mereka lakukan dan mencoba untuk menghentikannya bukan tanpa tujuan apa-apa, tapi karena rasa sayang itu bukan berarti harus diumbar sebelum waktunya tiba, justru dengan hal inilah untuk menjaga perasaan yang ada. Meski berat, sangat berat, mencoba tersenyum meski sebenarnya menangis.
        Dengan tarikan nafas panjang, kesepakatan itu tercapai. Tidak ada lagi saling mengabari dan menghubungi, tidak ada lagi chatting yang membuat berat untuk saling melepaskan. Lepaskanlah sesuatu karena Allah, pasti Allah akan memberikan yang lebih baik, yang terbaik J
       Cobalah sejenak kita semua renungkan, banyak hal positif yang sebenarnya bisa kita lakukan daripada sekedar berpacaran, mari kita pikirkan apa daya kita yang kini masih mengusap kaca berkabut untuk menatap masa depan, apa daya kita yang masih banyak kekurangan ilmu, apa daya kita yang masih terus berusaha menggapai harapan-harapan mulia untuk kedua orangtua kita, apa daya kita yang masih terus berusaha menyempurnakan masa depan. Itulah PR kita,
       Namun memang semua akhwat di dunia ini tidak memungkiri hatinya berharap bahwa suatu saat sang ikhwan pujaannya akan datang, akan kembali suatu saat nanti, akan datang dengan segenap kesiapan lahir dan batin mengetuk kembali pintu hati, mengetuk pintu rumah pula dan menghadap kedua orangtua karena Allah untuk sang akhwat. Sekarang persiapkanlah diri kita, dirimu dan diriku hingga waktu itu tiba. Dengan harapan semakin bergulirnya waktu, hati tidak berubah, hati semakin yakin dan kokoh, hingga waktu itu tiba dan saling bertatap seraya saling mengucap “Ana, uhibbuka fillah (Aku mencintaimu karena Allah)” dan disaat itulah yang akan disebut Indah pada Waktunya. Manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan, Wallaahu’alam..

Bondowoso,
Ahad, 10 Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar